Hindari Konflik, Pengusaha Pasir Lumajang Bangun Jalan di Tepian Sungai

0
340
Rapat Inspeksi Pembangunan Jalan Khusus Angkutan Pasir, di Aula Panti PKK Lumajang, Senin (7/1/2019). (Foto : Humas Pemkab Lumajang)

Lumajang (wartabromo.com) – Pengusaha pasir di Kabupaten Lumajang sepakat akan membuat jalur khusus angkutan pasir. Jalur dibangun menyisiri tepian sungai di sepanjang wilayah Kecamatan Candipuro.

Kesepakatan ini sebagai solusi adanya persoalan antara pengangkut pasir dan warga Desa yang menolak truk pasir melewati daerahnya. Bupati Lumajang, Thoriqul Haq mengatakan, pembangunan jalan ini murni dilakukan oleh pengusaha tambang pasir. Mulai dari alat berat, tanah urug, hingga transportasinya. Semua ditanggung oleh pengusaha.

“Ini perlu segera diselesaikan agar jalan khusus muatan pasir segara digunakan. Semakin cepat dilaksanakan pembangunan semakin cepat digunakan dan semakin cepat penyelesaian persoalan di masyarakat,” ujarnya, seperti dikutip dalam Portal Berita Pemkab Lumajang, Senin (7/1/2019).

Ditambahkan kemudian, jalur jalan akan dibangun melalui tepian sungai sehingga tidak melewati pemukiman penduduk. Jalur sepanjang 9 kilometer ini melewati Desa Jugosari dan Desa Jarit, Kecamatan Candipuro.

Cak Thoriq mengatakan, pembangunan jalan untuk angkutan pasir dimulai hari ini, dan ditargetkan selesai pada bulan depan. Hal ini karena proses pengerjaan dilakukan gotong royong oleh 20 pengusaha tambang.

Meski begitu, untuk urusan kelembagaan terkait tanah dan lain sebagainya, Pemkab Lumajang akan membantu dalam penyelesaiannya. Sehingga pengusaha fokus untuk membangun jalan saja.

Sekedar informasi, warga Desa di Kecamatan Candipuro melakukan aksi saling blokade jalan. Blokade ini terjadi di perbatasan Desa Jugosari dan Desa Jarit. Jika warga Jarit melakukan penutupan jalan dengan gardu dan pohon pisang, warga Jugosari memblokade jalan dengan meletakkan tumpukan pasir dan batu di tengah jalan.

Penutupan jalan ini diawali dengan warga Desa Jarit yang mengeluhkan ratusan armada pasir melewati jalan desanya. Akibatnya, jalan desa mereka rusak, dan debu bertebaran. Sementara Warga Jugosari mengaku menyayangkan tindakan tetangga desanya, karena warga dari ketiga Desa sama-sama menggantungkan hidup di pasir. (may/ono)