782 Perusahaan Masuk Jaringan Mafia Pangan, Mentan: Tak ada Kompromi

1000

Probolinggo (wartabromo.com) – Beras sebagai komoditi utama yang dikonsumsi bangsa Indonesia selalu menjadi polemik. Setidaknya ada 782 perusahaan dicatat menjadi mafia dalam sirkulasi pangan di Indonesia.

“Terlalu banyak mafia, bilang aku yang mengatakan. Ini kemarin ada yang mengatakan mafia dibiarin. Dalam pemerintahan Jokowi-JK paling banyak menyelesaikan masalah mafia pangan diselesaikan. Aku tidak akan biarkan mafia pangan berkeliaran di Indonesia,” kata Menteri Pertanian Republik Indonesai Andi Amran Sulaiman, saat berkunjung ke Probolinggo, Rabu (16/1/2019).

Amran mengatakan, setidaknya ada 782 perusahaan yang terlibat dalam jaringan mafia pangan. Saat ini, sudah ada 15 perusahaan yang termasuk daftar hitam (blacklist) Kementerian Pertanian. Selanjutnya ditambah lagi sebanyak 21 perusahaan yang masuk daftar hitam.

“Jangan petani diatasnamakan, marah nanti mereka, anda kualat. Dan tidak ada kompromi, itu perintah presiden,” tambah menteri asal Sulawesi Selatan itu.

Amran mengatakan ketika Indonesia dinyatakan Swasembada Pangan pada 10 November 1984 oleh Food and Agriculture Organization (FAO), masih mengimpor beras sebanyak 414 ribu ton. Beras itu diperuntukkan penduduk Indonesia yang saat itu berjumlah sekitar 100 juta jiwa.

Mentan Amran, saat mengecek beras Bulog di Probolinggo, Rabu (16/1/2019).

Sejak 3 tahun lalu, yakni 2016 hingga 2018, Indonesia menurut Amran tidak melakukan impor beras. Impor pada masa Pemerintahan Jokowi-JK hanya terjadi pada 2015. Hal itu dikarenakan karena faktor Elnino, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah.

Dengan penduduk Indonesia yang mencapai 261 juta jiwa saat ini, cadangan pangan mencapai 2,2 juta ton di gudang Bulog. Stok itu melebihi standar cadangan minimal 1 juta ton. Selain di gudang Bulog, sebanyak 8-9 juta ton beras disebut ada di rumah tangga, pasar, hotel, sampai warung.

Selain itu cadangan juga berada di Standing crop, yakni padi yang saat ini ditanam sebanyak 3,88 juta ton. Hasil produksi standing crop itu, diperkirakan menghasilkan lebih dari 20 juta ton gabah kering atau setara 10 juta ton beras.

Baca Juga : Mentan Sebut Jagung Tak Ada di Gudang Bulog

“Pertanian bukan hanya beras, tetapi punya 460 komoditas yang harus dijaga siang malam. Ekspor meningkat sekitar 29 persen. Stok 2,2 juta ton di gudang Bulog. Sekarang sudah bertransformasi dari pertanian tradisional ke pertanian modern,” tandas Amran.

Pertanian modern itu, dikatakannya merupakan pertanian yang setiap hari bisa menanam dan setiap hari bisa panen, sehingga ada kemajuan jika dibandingkan 30 tahun yang lalu. Sedangkan harga beras Indonesia berada di urutan 81, menurutnya jauh dengan Jepang di nomor 1. (cho/saw)