Sopir Taksi Maksi

946
“Sebenarnya nyaleg lagi. Tapi gagal. Habis tiga rumah dan empat mobil. Irfan memutuskan meninggalkan politik. Pindah dari Bekasi. Menekuni bisnis.”

Oleh: Dahlan Iskan

“Pak Dahlan ya…?” tanya sopir taksi itu. Saat saya masuk ke Blue Bird. Di dekat rumah saya di SCBD Jakarta.

Saya tersenyum saja.

Teman saya yang menegaskan.

“Betul,” ujar Achmad Jauhar, teman saya itu. Ia ketua harian pengurus pusat Serikat Penerbit Pers. Yang dulu bernama Serikat Penerbit Suratkabar (SPS). Yang saya ketua umumnya. Sejak 15 tahun lalu. Sampai bulan depan.

“Saya pernah naik pesawat bersama bapak,” ujarnya. Sambil mulai menginjak gas.

Saya mulai curiga. Siapa ia. Saya lihat namanya. Di dashboard Taksinya: Ali Ismail Irfan.
Tapi nama itu tidak membantu saya ingat apa-apa.

Saya cari akal untuk mengetahui siapa Irfan.

“Waktu naik pesawat itu Anda dari mana?” tanya saya.

“Dari Solo,” jawabnya.

“Oh… Asli Solo ya…?”.

“Bukan. Saya asli Pekalongan tapi lahir di Jakarta.”

“Di Solo lagi ngapain waktu itu?” tanya saya tidak sabar. Kok gak segera terungkap siapa Irfan.

“Ngurus usaha”, katanya.

Nah. Mulai terungkap sedikit. Tapi saya masih harus kejar lebih intensif. Sebelum turun nanti sudah harus jelas siapa Irfan.

“Usaha apa?” saya mulai to the point.

“Alat berat.”

Ups…

“Milik sendiri?”

“Iya.. “.

“Kok sekarang jadi sopir Taksi?”

“Saya bangkrut.”

“Oh…maafkan,” kata saya. Terdiam. Lama.

Lalu saya lihat layar HP itu. Yang dipasang di dashboard itu. Ada foto wanita. Mencolok. Berkebaya merah. Berjilbab. Duduk di dekat kursi mewah. Juga warna merah. Posisi duduk wanita itu seperti seorang yang tahu benar modeling. Kursinya seperti kursi raja.

“Itu foto di studio?”

“Di rumah saya,” katanya.

Ups…

“Ini istri saya,” kata Irfan. Ia tahu kalau saya tidak hanya terdiam. Tapi juga mengamati foto di layar HP itu.

Wanita itu berpenampilan luar biasa. Begitu mewah penampilannya. Maka saya pun terkejut yang kedua kalinya.

Sang istri ternyata Polwan. Dengan pangkat kolonel. Yang sekarang jadi ajudan salah seorang menteri.

Ups…

“Apakah istri membolehkan Anda jadi sopir Taksi?” tanya saya.

“Istri saya tidak pernah berkomentar tentang suaminya. Kalau dia berkomentar berarti bukan istri saya,” katanya.

Ups…

Yang punya potensi berkomentar adalah anak wanitanya. Anak sulung. Lulusan Binus. Yang kini jadi manajer di perusahaan asing.

“Tapi kalau sampai anak saya itu melarang bapaknya jadi sopir taksi saya akan minta padanya untuk antarkan bapaknya ini ke panti jompo,” ujar Irfan.

Dua anaknya yang lain masih kuliah dan SMA.

Ups…

Saya harus menemukan kejutan ketiga.

“Mau sampai kapan pegang taksi?” tanya saya.

“Sampai teman saya pulang,” katanya.

“Kapan ia pulang?”

“Tanggal 24 Januari depan.”

“Lho… Sudah dekat. Di mana ia sekarang?” tanya saya.

“Di Kelapa Dua.”

“Lho… Di tahanan?” tanya saya.

Irfan mengangguk.

Saya pun mengira ‘ia’ yang dimaksud adalah partner usahanya. Yang masuk tahanan karena bisnis. Yang begitu keluar tahanan bisa mulai bisnis lagi.

“Ia yang saya maksud adalah Ahok pak,” kata Irfan.

Busyet! Terkejut lagi saya.

Padahal sudah siap tidak terkejut biar pun akan ada kejutan baru.

“Saya teman Ahok sejak ia jadi gubernur Jakarta.”

“Berarti juga teman pak Jokowi.”

“Iya”.

“Berarti akan jemput Ahok saat dibebaskan nanti.”

“Tentu.”

“Jam berapa jemput Ahok?”

“Mestinya jam 9. Tapi kan biasa berubah-ubah.”

“Berarti tanggal 24 nanti tidak naksi.”

“Sebenarnya saya mau jemput Ahok bersama 1.500 orang yang saya kerahkan. Tapi tidak boleh. Takut ditunggangi” katanya.

Bisa mengerahkan massa begitu besar?

“Saya dulu satgas PDI-P. Waktu penyerangan di Jalan Diponegoro itu saya di sana,” tambahnya.

Irfan lantas jadi anggota DPRD Bekasi. Dari PDI.

Kenapa tidak nyaleg lagi. Bahkan untuk yang lebih tinggi?

Sebenarnya nyaleg lagi. Atas perintah Taufik Kemas, suami Megawati. Tapi gagal. Habis tiga rumah dan empat mobil.

Lalu jadi tim sukses Pilpres. Saat Mega berpasangan dengan Kyai Hasyim Muzadi.
Gagal lagi.