Sopir Taksi Maksi

972

Irfan memutuskan meninggalkan politik. Pindah dari Bekasi. Menekuni bisnis.

Mengapa hidupnya begitu nrimo jadi sopir taksi? Apakah karena tidak perlu mikir dapur? Cukup isterinya yang kolonel polisi yang menghidupi?

Tidak.

Irfan merasa sudah punya banyak emas dan berlian. Emas itu adalah tiga anaknya. Yang pintar-pintar. Berlian itu adalah ibunya. Yang kini tinggal bersamanya di Cilangkap, Jakarta.

Kalau istrinya?

Sang istri adalah segala-galanya. Irfan sudah jatuh cinta pada istrinya sejak sama-sama kelas satu SMP. Ketika Irfan masuk STM listrik, sang istri masuk SMA yang berdekatan.
Lalu Irfan kuliah di Trisakti. Di fakultas ekonomi. Sambil bekerja di perusahaan pemasok spare part.

Pengalaman kerjanya itulah yang membuat Irfan ingin jadi pengusaha. Pengusaha spare part. Khusus untuk alat-alat berat. Lalu berkembang menjadi pengusaha alat berat. Meningkat pula ke kontraktor tambang.

Puncaknya adalah zaman akhir pemerintahan Pak SBY. Saat pertambangan nikel lagi booming. Saat ekspor bahan mentah masih bebas.

Alat beratnya mencapai 40 buah. Beroperasi di tambang-tambang nikel di Sulawesi Tenggara.
SBY lantas mengeluarkan kebijakan baru: melarang ekspor bahan mentah. Nikel harus diolah di dalam negeri. Melalui smelter-smelter di dekat tambang.

Pertambangan nikel langsung berhenti. Alat-alat berat menganggur. Tagihan tidak dibayar.
Sisa-sisa kekuatannya untuk usaha di Jawa. Mengerjakan tambang galian C. Milik seorang pejabat tinggi. Pembayarannya juga macet.

“Cekya masih di tangan saya,” kata Irfan.

Lalu ada proyek swasta lain: Meikarta. Sisa terakhir kemampuannya dikerahkan di sana: tidak dibayar juga.

Selesai.

Jadi sopir Taksi.

Bukan sopir sembarangan.

Penumpang asing dari mana pun bisa diajak bicara: Inggris, Jerman, Belanda, Mandarin, Jepang.

Ia juga jadi motivator. Untuk sesama sopir Blue Bird. Bosnya yang minta itu. Termasuk mengajari penggunaan Android di kalangan sopir.

Saya berharap lalu-lintas Jakarta macet. Agar bisa lebih lama ngobrol bersama Irfan.

Tapi lalu-lintas Jakarta lancar. Saya pun tiba di Fairmont Senayan.

Harus turun dari taksi. Ada rapat dengan pemilik grup Kompas Gramedia.

Sang sopir ikut turun.

“Kita berfoto dulu pak,” katanya.(*)