Saat Gusdurian Turut Bersih-bersih Klenteng Tjoe Tiek Kiong

0
573
Bersih-bersih Klenteng Tjoe Tiek Kiong Pasuruan, jelang Imlek. (Rabu, 30/1/2019).

Pasuruan (wartabromo.com) – Jelang perayaan tahun baru Imlek 2570, umat Kong Hu Chu memiliki tradisi bersih-bersih Altar Suci di Klenteng Tjoe Tiek Kiong. Namun kali ini ada yang berbeda, Komunitas Gusdurian Pasuruan turut bergabung di sana.

Wartabromo berkesempatan mengikuti tradisi pembersihan dan penyucian Altar suci yang dilakukan pada Rabu, (30/1/2019). Tradisi ini memang rutin dilakukan pada tiap satu pekan jelang perayaan.

Terlihat empat orang dari Komunitas “Gitu Aja Kok Repot” Gusdurian Pasuruan akrab berbaur dengan umat tridharma Klenteng Tjo Tiek Kiong Pasuruan. Sembari membersihkan patung salah satu dewi di ruang persembahyangan utama.

Makhfud Syawaludin dari Gusdurian Pasuruan beranggapan, silaturahmi sangat penting dijalin agar lebih mengenal dan saling belajar memahami satu sama lain.

“Jika sudah mengenal, maka kami bisa belajar memahami dan membantu apabila memang dibutuhkan, bahkan bisa saling menjaga satu sama lain. Seperti kata Gus Dur, semakin tinggi ilmu seseorang, maka akan semakin besar rasa toleransinya,” ujarnya.

Yudhi Darma Santoso, Guru Kong Hu Cu di Klenteng yang berlokasi di Kelurahan Trajeng Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan ini, juga selaras dengan pendapat Makhfud.

“Kepercayaan kami memang berbeda. Itu tidak jadi masalah karena perbedaan itu wajar, yang terpenting kami harus selalu menjunjung tinggi toleransi,” ungkap Yudhi Darma Santoso, Guru Kong Hu Cu di Klenteng yang berlokasi di Kelurahan Trajeng Kecamatan Panggungrejo Kota Pasuruan ini.

Tak aneh jika Yudhi dan Makhfud serta beberapa pengurus Klenteng Tjo Tiek Kiong lainnya terlihat sangat akrab. Usut punya usut, mereka mengidolakan satu sosok yang sama, yakni K.H Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden RI ke 4.

Seteh bercakap-cakap cukup lama, merekapun melanjutkan pembersihan dan penyucian altar. Tiap sudut ruangan tak luput dari pembersihan. Patung dewa-dewi, celah jendela, bokor abu, semua dibersihkan untuk menyambut perayaan tahun baru Imlek yang jatuh pada 5 Februari 2019 mendatang.
Patung dewa-dewi disucikan dengan air bunga, menurut Yudhi, selain agar terlihat lebih bersih, ini dimaksudkan untuk pembuangan aura negatif.

“Untuk refleksi menjelang tahun yang baru juga,” imbuhnya.

Yudhi juga menginformasikan, perayaan sakral pada saat imlek dilaksanakan saat malam hari menjelang tahun baru Imlek. Sementara perayaan secara meriah dengan hiburan kesenian seperti barongsai, diadakan pada saat Cap Go Meh yaitu 15 hari pasca tahun baru imlek.

“Tanggal 19 Februari, saat Cap Go Meh di sini ada kesenian barongsai seluruh masyarakat dipersilahkan untuk datang merayakan kebahagiaan bersama di sini,” pungkas Yudhi. (ptr/may)