Bromo Aman, BPBD Minta Jangan Dibesar-besarkan

1737

Probolinggo (wartabromo.com) – Perkembangan kegempaan di Gunungapi Bromo cenderung stagnan yakni tremor dominan 1 milimeter. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo meminta kondisi itu jangan dibuat bombastis.

Pada Kamis (21/2/2019), tremor menerus (Microtremor) terekam dengan amplitudo 0.5-1 mm (dominan 1 mm). Sementara asap kawah bertekanan lemah-sedang teramati berwarna putih kecoklatan. Dengan ketinggian mencapai 600 meter di atas puncak kawah. Serta tercium bau belerang ringan di sekitar Pos Pengamatan Gunungapi (PPGA) Bromo.

Kondisi itu, menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo, Anggit Hermanuadi, cenderung stagnan. Tidak ada aktivitas mencolok bahkan mirip dengan kondisi tahun 2016 lalu, pasca status erupsi Bromo diturunkan ke level II. Meski begitu, pihaknya menurut Anggit sudah siap jika terjadi peningkatan status.

“Dari pihak BPBD mengharapkan situasi ini tidak dibesar-besarkan, karena situasi masih kondusif dan normal. Ya kita memang tidak mengharap terjadi situasi yang lebih buruk. Namun kesiap-siagaan yang telah dilakukan oleh BPBD yakni dengan memasang rambu-rambu evakuasi, sehingga masyarakat setempat sudah faham karena sudah disosialisasikan,” ujarnya, Kamis (21/2/2019).

Sementara itu, beberapa komunitas di Bromo sangat menyayangkan adanya pemberitaan media televisi nasional, yang kurang tepat. Misalnya, penyebutan adanya awan panas yang keluar dari kawah Gunung Bromo. Padahal, kondisi di lapangan, tidak ada luncuran awan panas itu. Kawah Gunung Bromo hanya mengeluarkan abu vulkanik, dan itu terjadi hanya dalam 2 hari terakhir.

Sebab, pemberitaaan yang tidak sesuai fakta malah kontraproduktif bagi wisata Gunung Bromo. Tidak sedikit tamu yang mengurungkan pergi ke Gunung Bromo.

“Sebenarnya tidak masalah jika media memberitakan peningkatan aktivitas Gunung Bromo. Sebab, pemberitaan itu malah bisa menjadi media promosi bagi Gunung Bromo. Tetapi kalau tidak sesuai dengan fakta, itu yang kami sayangkan,” kata Henry Kurniawan, salah satu pemilik hotel di Cemorolawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Toha, sopir jip Bromo. Pemberitaan yang tidak sesuai fakta membuat sejumlah tamu yang awalnya hendak mengunjungi Gunung Bromo dengan rute Penanjakan-Kawah, jadi urung.

“Ya kasihan sama yang punya jip. Tetapi mau bagaimana lagi? Tamunya cancel gara-gara berita di tv. Memang dampaknya besar,” tutur pria asal Sukapura itu. (fng/saw)