PWI Pasuruan Sesalkan Kekerasan Terhadap Wartawan di Acara Munajat 212

1071
Situasi munajat 212. Foto : Harian Jogja.

Pasuruan (wartabromo.com) – Jurnalis media online menjadi korban kericuhan di acara munajat 212 yang digelar di Monas, Kamis (21/2/2019) malam. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pasuruan prihatin dengan perilaku kekerasan diduga dilakukan oleh massa 212 tersebut.

Joko Hariyanto, Ketua PWI Pasuruan menyayangkan perilaku massa 212 pada acara tersebut. Wartawan yang bertugas meliput jalannya kegiatan, harusnya tidak diperlakukan semena-mena.

“Kami prihatin. Itu kan sudah tugas kita sebagai wartawan, kenapa malah menerima perlakuan kasar hingga kekerasan,” ujarnya, Jumat (22/2/2019).

Sekedar diketahui, pada acara munajat 212, tiba-tiba terjadi kericuhan. Diduga, kericuhan disebabkan karena adanya copet. Saat itulah, salah satu jurnalis media online Detik.com bernama Satria yang kebetulan berada di sekitar tempat ricuh, mengambil video tersebut. Lalu Ia ditarik oleh massa 212 dari pusat kericuhan.

Satrio dipaksa untuk menghapus rekaman. Ia pun sempat menolak hingga akhirnya mendapatkan perlakuan kasar seperti dicekik hingga dicakar massa. Satria sempat ditarik oleh rekannya sesama wartawan, supaya lepas dari keganasan massa 212 tersebut. Naasnya, penolong Satria yang saat itu juga merekam perlakuan kasar massa kepada Satria, kecopetan. Handphonenya pun raib dalam peristiwa itu.

“Janganlah ada seperti itu lagi. Wartawan itu kan sudah punya aturan. Ada juga kebebasan pers. Kok ya masih saja ada mengintimidasi,” imbuh Joko.

Ia pun berharap, penegak hukum dapat mengusut tuntas kasus ini. Selain sebagai tugas, peristiwa ini juga diharapkan tidak terjadi kembali, menimpa wartawan lain.(may/ono)