Cerita Shania, Jawara Melukis yang Jadi “Wakapolres” Jakarta Pusat

0
621
“Saya sering diremehkan dan dikatakan tidak berguna, sok menjadi aktivis. Bahkan mereka meremehkan saya karena status orang tua saya yang tidak berpangkat dan berharta,”

Laporan: Ardiana Putri

SEMANGAT menggebu terpancar dari wajah Shania Indira Putri (16), siswi kelas XI SMAN 1 Kota Pasuruan. Di sela kesibukannya belajar dan berkegiatan di luar sekolah, ia menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman tentang prestasi yang pernah ditorehnya kepada WartaBromo.

Usianya masih belia, tapi Shania telah mengukir berbagai prestasi, bahkan sudah melalang buana di berbagai kesempatan maupun lomba mulai dari kancah lokal hingga nasional.

Anak tunggal dari Suwanto dan Kasiati ini mungkin sama seperti para pelajar lainnya, pernah mengalami perundungan. Namun Shania mampu membuktikan pada semua orang dengan segudang prestasi yang ia miliki.

Shania memang berasal dari keluarga sederhana. Sambil berkaca-kaca ia menceritakan pedihnya perjuangan orang tuanya untuk membiayainya sekolah. Bahkan, ibundanya rela menjual perhiasan agar anaknya itu bisa masuk di SMAN 1 Kota Pasuruan.

“Saya sering diremehkan dan dikatakan tidak berguna, sok menjadi aktivis. Bahkan mereka meremehkan saya karena status orang tua saya yang tidak berpangkat dan berharta,” ungkap remaja yang tinggal di Perum Sekar Indah 2 Bakalan, Kota Pasuruan ini.

Namun dari itu semua, justru disebut menjadi motivasi sehingga kian terlecut, membuktikan diri untuk maju dan sukses.

Prestasinya dimulai dari hobinya melukis. Shania mulai belajar melukis sejak di bangku Taman Kanak-Kanak (TK) . “Dulu Bunda saya yang mengajarkan cara mencampur warna merah dan putih hingga menjadi merah muda,” ungkapnya, mengenang.

Shania kecil penasaran terhadap perubahan warna yang dihasilkan. Sejak itulah ia semakin suka menggambar kemudian serius belajar melukis dan berlanjut hingga kini.

Beberapa kesempatan lomba tak pernah absen diikuti. Terakhir ia mendapatkan juara membuat poster di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Deretan prestasi itu yang mengantarkannya bertemu dengan para maestro seni Indonesia, seperti Djoko Pekik, Nasirun dan Putu Sutawijaya dalam sebuah kesempatan yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2018 lalu.

Selain kegiatan seni, Shania juga aktif di bidang sastra. Beberapa kali ia mendapat juara 1 lomba cipta puisi dan cerpen yang diadakan oleh berbagai instansi pemerintah maupun swasta.

Pelajar yang juga aktif di Forum Anak Kota Pasuruan ini juga menceritakan prestasi yang paling membanggakan dalam hidupnya.

“Yang paling berkesan adalah ketika saya terpilih menjadi perwakilan dari Jawa Timur untuk menggantikan tugas dan jabatan Wakapolres Jakarta Pusat dalam sehari,” ungkapnya bangga.

Dikatakannya, program tersebut merupakan program Sehari Jadi Pemimpin yang diselenggarakan oleh Yayasan Plan International Indonesia bersama 12 anak dari berbagai penjuru Indonesia lainnya.

“Sangat gugup. Bayangkan saja saya ditugasi untuk benar-benar menggantikan tugas Wakapolres Jakarta Pusat,” imbuh Shania.

Ia berpesan pada teman-teman sebayanya, jangan pernah merasa minder apalagi tidak percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki. Baginya, setiap orang di dunia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Gali potensi diri dan jangan lupakan meminta restu orang tua, itu adalah kunci kesuksesan. (*)