Siswa di Bromo Butuh Masker

0
534
Sejumlah siswa di sekitar Gunung Bromo bermain di tengah ancaman abu vulkanik. Siswa di kawasan terdampak abu Bromo ini, membutuhkan bantuan masker dari pemerintah, sehingga dapat tetap melakukan kegiatan belajar.

Probolinggo (wartabromo.com) – Abu vulkanik Gunung Bromo cukup berdampak pada aktivitas sejumlah sekolah. Pemerintah kemudian diminta memberikan bantuan masker, sehingga siswa tetap bisa melanjutkan belajarnya.

Sejak 3 hari, Bromo melontarkan abu vulkanik dengan ketinggian mencapai 700 meter dari permukaan kawah. Seiring dengan hembusan angin, abu ini menghujani desa-desa di Kecamatan Sukapura. Seperti Desa Ngadisari, Jetak, Wonotoro, Ngadas dan Wonokerto. Bahkan abu juga sampai ke Desa Sapikerep dan Sukapura, meski terbilang tipis.

Kondisi ini mengancam aktivitas warga, terutama proses belajar mengajar di sejumlah sekolah. Kepala sekolah disebut juga sempat mengeluhkan kondisi itu. “Kami sudah mendapat laporan dari sejumlah guru melalui PGRI Kecamatan Sukapura. Karena itu, kami mendorong BPBD mengirimkan masker kepada sekolah-sekolah yang terdampak,” kata Purnomo, Ketua PGRI Kabupaten Probolinggo.

Sejauh ini, PGRI juga masih melakukan pendataan jumlah siswa dan guru, maupun tenaga kependidikan yang terdampak. “Kami melakukan pendataan untuk menginventarisasi dampak yang terjadi bagi dunia pendidikan. Termasuk apakah nanti, akan mengirimkan bantuan ke sana,” ungkapnya.

Kepala pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Anggit Hermanuadi mengatakan, sudah mendapat laporan terkait sekolah terdampak. “Setelah mendengar pengaduan kepala sekolah di Sukapura tim URC telah mengirim kebutuhan masker ke pengurus PGRI untuk dibagikan kepada siswa sekolah di Sukapura. Harapan kami masker digunakan untuk aktivitas di luar rumah khususnya siswa sekolah,” tuturnya.

Terkait jumlah yang dibagikan, ia mengatakan menyesuaikan kebutuhan. Penggunaan masker di wilayah terdampak abu vulkanik Bromo penting untuk menjaga kesehatan. “Sebab abu vulkanik dampat mengganggu sistem pernafasan, memicu sesak nafas, dan iritasi,” kata Anggit. (cho/saw)