Taman Kembang Tana Layu Pelipur Lara

960
Rumah adat suku Tengger. (Foto: Yulius Christian)
Keindahan bunga Edelweis tidak diragukan lagi. Tanaman berjuluk bunga abadi ini, juga menjadi objek wisata baru di Gunung Bromo. Keindahannya mampu menjadi daya tarik bagi pengunjung Gunung Bromo.

Laporan M. Ali Gufron, Probolinggo

BUNGA khas Bromo Tengger, Edelweis, kini dibudidaya oleh sejumlah pecinta alam Gunung Bromo. Bunga abadi ini diyakini terancam putus dari tanah Bromo karena sering diambil oleh masyarakat dan pengunjung.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kembang Tana Layu Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura. Kabupaten Probolinggo, sejak Juli 2018 lalu mulai membudidayakan Edelweis. Budidaya ini dilakukan di sekitar Rumah Adat Suku Tengger yang memiliki luas 10×9 meter persegi. Di dalam rumah ini terdapat berbagai peralatan sehari-sehari khas warga Suku Tengger serta Pawon Tengger.

“Kalau edelweis di sini, jenisnya Anaphalis javanica dan keberadaanya mulai langka, makanya perlu dilestarikan. Selain sebagai bentuk kelestarian budaya asli suku Tengger dan sebagai Destinasi wisata kebudayaan Indonesia. Di tempat ini, wisatawan dapat berfoto-foto dengan latar belakang bunga edelweis,” ujar Ketua Pokdarwis, Sugeng Djumadyono, Sabtu (30/3/2019).

Ada sekitar 1.500 bibit edelweis dibudidayakan di area rumah adat Tengger seluas setengah hektar itu. Bibit-bibit itu sengaja ditanam agar tanaman edelweis tetap lestari. Hingga saat ini tanaman edelweis masih digunakan warga Tengger dalam upacara adat Suku Tengger seperti Agem-agem dalam perayaan Karo.

Biasanya, warga Suku Tengger menyebut edelweis dengan Tana Layu. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya tidak layu.

Edelweis merupakan tumbuhan dilindungi yang hanya bisa hidup di kawasan setinggi di atas 2.000 mdpl. Adanya budidaya ini, warga bisa memberdayakan sendiri tumbuhan edelweis. Sehingga tidak lagi memetik edelweis yang tumbuh di alam liar.

“Melalui lahan budidaya ini, ke depan para warga Tengger tidak lagi mengambil tanaman Edelweis dari alam bebas. Diharapkan mereka bisa mengambil dari sini, untuk keperluan adat. Kami berusaha untuk membudidayakan bunga tersebut supaya terhindar dari kepunahan. Meski tak terlalu luas, budidaya bunga abadi tersebut dapat menjaga kelestariannya,” tambah Sugeng.

Camat Sukapura, Yulius Christian berharap, keberadaan areal budidaya tanaman edelweis ini, bisa menjadi tempat pembelajaran bagi para siswa sekolah maupun masyarakat umum, yang ingin belajar menanam edelweis dan mengenal budaya Suku Tengger. Saat ini, sudah ada empat desa diproyeksi menjadi desa wisata bunga abadi itu.

“Tentunya dengan adanya tempat ini, bisa jadi mini museum bagi wisatawan yang berkunjung. Selain mengenal tanaman khas Tengger, mereka juga tahu budaya Suku Tengger itu seperti apa. Desa Wisata Edelweis ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat Suku Tengger yang tinggal di kawasan penyanggah Gunung Bromo,” ujar Yulius.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger (BBTNBTS) John Kenedie mengatakan, ada tiga jenis edelweis yang tumbuh di hutan TNBTS. Antara lain Anaphalis javanica, Anaphalis viscida dan Anaphalis longifolia. “Dengan adanya pembudayaan Bunga Edelweis ini diharapkan para wisatawan tidak mengambil Bunga Edelweis dari dalam hutan,” ujarnya.

Sebenarnya, gagasan untuk membentuk Desa Wisata Edelweis sudah ada sejak tahun 2006. Itu adalah kali pertama dilakukan inventarisasi edelweis di TNBTS. Pada tahun 2007, dilakukan uji coba konservasi edelweis di luar kawasan konservasi TNBTS atau eksitu. Tapi uji coba itu gagal.

Hingga akhirnya pada tahun 2014 TNBTS mendeklarasikan diri sebagai Land of Edelweis menggantikan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Di tahun itu, petugas TNBTS sudah berhasil produksi bibit edelweis dari bijinya. (*)