Merasakan Semangat Sang Penjual Bakpao Keliling, Kakek Suparman

0
459
Satriya dan Suparman, sang penjual bakpao keliling.
Usia Kakek Suparman, tak lagi muda. Dengan langkahnya yang pelan, Suparman masih bertahan berjualan bakpao keliling. Lelaki berusia mendekati seabad ini kerap mendapat cobaan, ditipu dengan uang mainan hingga ditabrak mobil. Namun tak jarang, pembeli berderma tak mengambil kembalian.

Laporan H. Lailatuansyah, Probolinggo

SEHARI-HARI, Suparman berjualan bakpao keliling. Dari kediamannya di jalan Patimura, ia mendorong gerobaknya ke arah alun-alun Kota Probolinggo. Sekitar isya, berpindah ke perempatan jalan Dr. Saleh dan A. Yani. Bakpao tersebut, merupakan hasil racikan sang istri, Satriya, 63 tahun.

Setiap hari, ada sekitar 120 biji bakpao dibawa Suparman. Harganya hanya Rp2.500 perbiji. Jika semuanya terjual, maka omzet Suparman sekitar Rp300 ribu. Hasil penjualan tersebut kemudian digunakan untuk makan dan menyambung hidup sehari-hari.

“Saya masih bisa makan, karena itu saya terus bekerja. Kecuali sedang sakit, ya libur,” tutur Suparman, Kamis (4/4/2019).

Ya, prinsip itulah yang tetap dipegang teguh Suparman hingga usia mencapai 80 tahun saat ini. Ia tak mau merepotkan tiga anaknya yang sudah berkeluarga dan bekerja. Dari ketiga anaknya itu pula, Suparman dikaruniai empat cucu. “Kami sudah berulang kali mengingatkan bapak untuk berhenti. Tapi tidak mau, katanya kalau tidak bekerja, jenuh berada di rumah terus,” sahut Satriya, istri Suparman.

Di usia renta dengan fungsi pendengarannya yang berkurang, ada saja orang tak bermoral, tega berlaku buruk pada Suparman. Salah satunya, membayar dengan uang mainan. Saat berjualan, Suparman juga pernah ditabrak mobil, meski si penabrak akhirnya minta maaf dan mengganti dagangannya.

Hebatnya lagi, Suparman tidak mau begitu saja menerima belas kasih orang-orang di sekitarnya. “Sering orang begitu saja memberi saya uang. Tapi tidak saya terima. Kalau mau memberi saya, harus membeli kue bakpao yang saya jual,” ujarnya.

Sejak tahun 1993, atau selama 26 tahun, Suparman melakoni pekerjaan ini. Berangkat pukul15.00 WIB dan pulang sekitar pukul 23.00 WIB. Tak jarang pula, Suparman pulang dinihari, sampai pukul 02.00 WIB. Atau dengan kata lain, sampai dagangannya habis. Sesekali ia berhenti dan menunggu pembeli. Biasanya juga mangkal di sekitar Alun-alun Probolinggo, perempatan kam, atau di depan Bank Mandiri Probolinggo.

Sejauh ini, baik Suparman maupun Satriya tidak berharap muluk-muluk, melanjutkan hidup. “Cukup diberi kesehatan saja, karena harta paling berharga itu hanyalah kesehatan,” tandasnya.

Semangat sang kakek, sepertinya menjadi inspirasi jajaran Polres Probolinggo Kota. Kamis siang, Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Alfian Nurrizal beserta pejabat utama lainnya, bersilaturahmi ke kediaman Suparman. Selain berbincang banyak hal, korps baju coklat ini juga menyempatkan untuk makan siang bersama tuan rumah.

Semangat bekerja kakek Suparman yang masih tinggi inilah, disebut untuk ditularkan pada anggota Polisi di Kota Probolinggo. Sehingga tidak ada lagi kata malas dan enggan bekerja. Terlebih lagi, tugas kepolisian sangat penting di masyarakat, bangsa dan negara.

“Kami harap dengan pelajaran dari kakek Suparman ini, kinerja anggota Polresta Probolinggo dapat ditingkatkan. Baik dari segi semangat bekerja sampai inovasi untuk terus mengayomi dan meindungi masyarakat, jangan kalah dengan yang sudah tua,” tandas Alfian. (*)