Tis Tas (Gratis Berkualitas), Terobosan Cerdik Sang Gubernur

919
Siswa SMK sebagai Ilustrasi.
Pemerintah hendaknya selalu melakukan evaluasi dalam setiap penggelontorkan dana. Karena kita tentu tidak hanya mengejar kuantitas tetapi sekaligus kualitas.

Oleh : Anang Prasetya, S.Pd*

ALOKASI dana pemerintah pada dunia pendidikan sangatlah besar. Hal ini semata-mata untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Tak terkecuali Gubernur Jawa Timur, Khoffifah Indar Parawansa. Di awal kepemimpinannya sang Gubernur langsung meluncurkan program TIS TAS (Gratis Berkualitas) pada dunia pendidikan.

Banyak program pendidikan yang tidak tepat sasaran. Salah satu penyebabnya terkait dengan teknis penerimaan dalam bentuk sumbangan tunai langsung. Dalam kondisi masyarakat Indonesia yang cenderung konsumtif, seringkali dana sumbangan pendidikan tersebut disalahgunakan.Banyak masyarakat yang menggunakan dana tersebut justru untuk keperluan lainnya. Membeli handphone atau keperluan rumah tangga misalnya.

Hal semacam ini tentu sangat tidak kita inginkan. Pemerintah hendaknya selalu melakukan evaluasi dalam setiap penggelontorkan dana. Karena kita tentu tidak hanya mengejar kuantitas tetapi sekaligus kualitas. Terlalu mubadzir jika dana yang besar itu untuk hal-hal yang justru membentuk karakter masyarakat Indonesia menjadi konsumtif dan pemalas.

Meskipun program TIS TAS baru direalisasikan pada bulan Juli mendatang, tetapi kita optimis dana tersebut tidak salah sasaran. Dana TIS TAS tersebut berbentuk sumbangan yang dikelola langsung oleh sekolah. Pengelola sekolah tentu sangat paham bagaimana cara mengelola dan mengalokasikan dana itu.

Pemerintah juga harus percaya kepada pihak sekolah tanpa ada unsur curiga yang berlebihan. Dalam kurun waktu terakhir ini, pemerintah seolah-olah telah mengenyampingkan peran sekolah dalam urusan dana. Pemerintah lebih percaya pada pemerintah desa atau bank-bank pemerintah. Padahal dengan cara tersebut,nyatanya justru banyak terjadi penyalahgunaan dana.

Kita yakin ibu Gubernur telah mempelajari dan mempertimbangkan banyak hal agar program TIS TAS ini benar-benar akan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia khususnya propinsi Jawa Timur.

Program TIS TAS ini akan dinikmati oleh seluruh siswa tanpa tebang pilih. Bentuk nyata dana ini dirasakan dengan dibebaskannya SPP untuk siswa terutama siswa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).

Program TIS TAS ini telah memberi warna khusus di tengah banyaknya program pemerintah yang kadang terkesan grusah-grusuh dan mengedepankan gaya pencitraan semata. TIS TAS terasa sangat mendidik dan dapat dijadikan contoh bagi program-program lain terutama yang terkait dengan dunia pendidikan. Tinggal bagaimana peran sekolah dalam menyiapkan segala sesuatunya terutama terkait dengan karakter siswa.

Adalah sebuah pekerjaan rumah yang sangat besar bagi sekolah dan seluruh komponen terkait. Tanpa basa basi kita berani mengatakan bahwa motivasi dan kesadaran belajar siswa jaman sekarang sangatlah berbeda dengan jaman kita dulu. Pengaruh lingkungan dan gratisnya biaya pendidikan terkadang membuat siswa cenderung kehilangan tanggungjawabnya.

Mereka cenderung merasa tak mempunyai beban moril jika terjadi penurunan prestasi atau dampak lainnya. Tanpa membayar berarti siswa tak mengalami kerugian apapun meskipun hasil belajar mereka sangat memprihatinkan. Inilah yang dimaksud dengan PR besar terutama bagi Kepala Sekolah dan guru yang secara langsung berada di garda terdepan pembangunan sumber daya manusia Indonesia pada umumnya.

Program TIS TAS ini mirip dengan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang sudah sangat familiar di lingkungan sekolah dan pengelolahnya. Tentu akan terjadi penambahan sarana pembelajaran. Jika kita tengok SMK yang cenderung membentuk kemampuan skill, penambahan sarana praktikum dan semua unsur pendukungnya akan berpengaruh terhadap kualitas siswa dan lulusannya.

Sarana praktik yang relevan dengan meperkembangan dunia industri akan mengangkat kualitas siswa SMK di mata para pelaku usaha di Indonesia. Tentu mereka tak akan ragu lagi dengan semua potensi yang dimiliki siswa SMK. Pada Kompetensi Keahlian Teknik Ototronik misalnya, siswa sudah sangat terbiasa dengan penggunaan alat Scan Tool untuk proses perbaikan atau service mobil. Melakukan pengecekan kualitas gas buang (emisi gas buang) dengan menggunakan Gas Analyzer juga sudah sangat familiar bagi siswa SMK.

Penambahan jumlah laptop juga akan sangat membantu proses pembelajaran. Penggunaan laptop untuk membuat program atau memperbaiki program terkait dengan ECU (Electronic Control Unit) pada mobil juga diharapkan dapat membantu siswa meningkatkan kompetensinya.