Muslim Tengger, Berpuasa di Tengah Mayoritas Umat Hindu

14204

“Harmonisasi dan ketentraman di sekitar warga Suku Tengger tetap terjaga hingga saat ini. Baik umat muslim maupun umat hindu hidup berdampingan dan saling menghargai”

Laporan : Lailatuansyah

TINGGAL bersama dengan mayoritas umah Hindu, tidak membuat warga suku Tengger di Lereng Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo terkucilkan saat puasa. Hampir tak ada konflik di desa ini. Bahkan mereka seringkali mengagendakan buka puasa bersama.

Suku Tengger di pucuk Probolinggo ini bukanlah etnis yang baru lagi. Mayoritas dari mereka merupakan warga beragama Hindu. Meski begitu, ada satu kampung yang nyaris semuanya memeluk agama Islam. Kampung Qur’an namanya. Terletak di Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

Tak ada permusuhan. Mereka hidup berdampingan, dengan rasa toleransi yang tinggi. Salah satu pusat kegiatan keagamaan umat muslim tengger yakni di Musolla Al-Ikhlas Wal Barokah, yang berada di Dusun Krajan.

Di tempat inilah, anak-anak muslim suku tengger, berbuka puasa bersama, belajar mengaji dan sholat. Lalu dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah.

“Sudah sejak setahun lebih mengaji di sini. Senang karena banyak teman dan ustadnya baik,” ujar salah satu santriwati, Tisya Regina, Jumat (10/5/2019).

Bisa dibilang, Musholla ini cukup bersejarah di mata umat muslim Tengger. Berdiri sejak tahun 2011 silam dan dibangun oleh Sumarjono, muallaf Tengger yang kini sudah tiada. Semula, bangunan ini hanya berukuran 6×6 meter persegi. Dindingnya terbuat dari kayu jati, sementara tiangnya dari kayu cemara Bromo. Akses ukiran khas Suku Tengger pun menghiasi Musholla.

Tak mudah syiar agama Islam di kalangan suku di Bromo ini. Butuh keuletan hingga ketelatenan untuk bertaaruf dengan agama Islam.

“Harmonisasi dan ketentraman di sekitar warga Suku Tengger tetap terjaga hingga saat ini. Baik umat muslim maupun umat hindu hidup berdampingan dan saling menghargai. Tidak pernah ada sejarah konflik, karena perbedaan keyakinan tersebut,” terang guru ngaji di Mushalla Al Ikhlas Wal Barokah, Ustad Muhammad Muhibbin.

Ramadhan ini, menyimpan harapan yang sama. Warga muslim Tengger menginginkan proses ibadah puasa yang khusyuk. Tanpa khawatir ada keretakan dengan agama lain. Satu point lagi, cara untuk merekatkan toleransi ini dengan momen buka puasa bersama. Iya, bersama umat agama Hindu dan agama Kristen. Inilah kebersamaan ala Suku Tengger yang patut ditularkan kepada sesama. (*)