Kisah Mukaiyah, Bekerja Serabutan Demi Hidupi 5 Anaknya

969
Bertahun-tahun, Mukaiyah membanting tulang seorang diri demi menghidupi anak-anaknya. Ia terpaksa melakoni berbagai pekerjaan berat semenjak ditinggal mati oleh suaminya. Apapun pekerjaan ia terima, hanya untuk menebus sesuap nasi agar kelima anaknya agar tak sampai kelaparan.

Laporan: Ardiana Putri

MASIH banyak saudara-saudara kita yang hidup di bawah garis kemiskinan. Mukaiyah (45), salah satunya. Ia merupakan janda yang tinggal di pelosok Desa Oro-Oro Pule, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan. Sembilan tahun lamanya ia terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Suami yang telah memberikannya lima orang anak itu telah mendahuluinya.

Telapak tangannya begitu kasar. Saksi betapa beratnya pekerjaan yang dilakoni Mukaiyah. Sehari-hari, ia hanya mampu mengumpulkan penghasilan Rp 12 ribu saja. Hasil dari bekerja di sawah sebagai buruh tani. Tentu saja nominal itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan harian Mukaiyah dan keluarga.

“Ya biasanya cuma bisa dapat dua belas ribu saja, dicukup-cukupin saja,” ujar Mukaiyah sambil menyunggingkan senyuman.

Tak pelak, ia harus memaksakan diri untuk meminjam sejumlah uang pada para tetangga hanya untuk membeli kebutuhan makan sehari-hari.

“Kalau tidak punya uang terpaksa harus hutang dulu, kalau saya tak punya uang buat bayar, saya harus bekerja untuk orang yang saya hutangi itu,” ungkapnya sambil sedikit berkaca-kaca.

Mukaiyah memang selalu tampak tersenyum di hadapan orang lain. Seakan menyembunyikan beban berat dalam hidupnya.

Rumah yang Mukaiyah tinggali memang bukanlah sebuah gubuk reyot dari bahan bambu. Namun tetap saja bisa dikatakan kurang layak. Atap serta tembok di beberapa sudut bagian sudah rapuh termakan zaman.

Kamar mandi juga tak dilengkapi dengan fasilitas sanitasi. Apalah daya, kamar mandi yang seharusnya tertutup itu tampak terbuka karena memang diletakkan di luar rumah. Tak ada sekat dari tembok yang menutupi. Mukaiyah hanya bisa memberi sekat penutup berupa terpal yang semakin lama kian lapuk.

Namun tetap saja, Mukaiyah menghadapi segala keterbatasan ekonomi dalam hidupnya itu bukan sebagai beban. Ia mengatakan, selama nafasnya masih bisa berhembus, selama itu pula dirinya akan berusaha berjuang demi sesuap nasi untuknya dan anak-anaknya.

Saat bulan Ramadan tiba, terkadang Mukaiyah tak sengaja meneteskan air mata, melihat anak-anaknya tak mampu menyantap makanan enak seperti para tetangganya. Kesedihan itu bertambah saat tiba waktu hari raya. Anaknya yang masih kecil meminta baju baru.

“Kadang saya bela-belain berhutang, tapi kalau benar-benar tidak ada ya sudah baju seadanya saja,” imbuhnya.

Bagi Mukaiyah, segala beban derita dalam hidupnya merupakan cobaan yang harus dihadapi dengan kesabaran. Pantang baginya untuk menjadi peminta-minta. Ia harus berusaha sekuat tenaga demi melihat anak-anaknya tersenyum ceria.(*)