Pihak Travel Bantah Telantarkan Jamaah Umroh asal Probolinggo

7487

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemilik travel umroh PT Shabilla Ebaldo Utama, Sholechah Madjid membantah telah menelantarkan jamaah umroh asal Kabupaten Probolinggo. Hal itu terjadi karena sikap jamaah yang kurang baik sejak sebelum berangkat ke Tanah Suci.

“Tidak benar kami menelantarkan mereka. Insha Allah mereka sudah dalam perjalanan pulang. Ada enam orang sudah perjalanan pulang. Sisanya baru besok pulang,” ujar Sholechah Madjid, Selasa (14/5/2019).

Sholechah mengatakan saat di tanah suci, para jamaah bersikap kurang baik. Karena sikap yang kurang baik itu, mutowif yang sudah disewa untuk jamaah ini, tidak sanggup dan memilih melarikan diri. “Kalau pendampingnya menghilang karena perlakuan mereka saja yang kurang baik. Mutowif yang sudah kami sewa nggak sanggup,” jelasnya.

Ia juga menceritakan bahwa keberangkatan ke 32 jamaah ini, ada sedikit paksaan dari pihak keluarga. Paksaan itu, bukan dari jamaah, melainkan dari Mursida, warga Gending, Kabupaten Probolinggo yang menjadi perantara. Yang ia tahu, bahwa ke 32 jamaah itu, membeli alat kesehatan dengan harga Rp 10 juta. Nah Rp 6,5 jutanya ini, untuk didaftarkan DP umroh.

Baca Juga : Jamaah Umroh Asal Probolinggo Terlantar di Madinah

“Awalnya kami tidak tahu menahu persoalan daftar umroh ini. Karena awalnya, mereka hanya ikut membeli alat kesehatan. Mursida akhirnya datang ke saya dan memaksakan mereka harus diberangkatkan ke Tanah Suci. Paksaan untuk berangkat ini karena mereka sudah kadung tahu kepada tetangga sebelah untuk berangkat,” katanya.

Padahal harga paket umroh di travelnya Rp 22,5 juta per pack. Dengan begitu, pihaknya menanggung sisa pembiayan sebesar Rp 16 juta per orang. Artinya, ada pembiayaan yang ditanggung sebesar Rp 512 juta. Sehingga untuk menalanginya, Sholechah harus menjual tanahnya di Sidoarjo dan menggadaikan mobilnya untuk memberangkatkan 32 jamaah tersebut.

“Karena mereka hanya bayar Rp 6,5 juta. Logikanya, mana ada harga segitu umroh di bulan Ramadan. Kurang baik bagaimana kalau pembiayaan sebesar itu kami tanggung. Tetapi justru sebaliknya, yang kita terima, kurang sopan dan sedikit memaksa,” ungkap Sholechah.

Ia juga mempersilahkan keluarga para jamaah untuk melapor ke polisi.

“Kalau mau melapor ke polisi, silahkan. Wong yang mengancam dan memaksakan harus berangkat memang dari keluarga. Saya siap kalau misalnya dilaporkan ke polisi. Biar nanti polisi yang akan memprosesnya secara adil,” tegas Solechah. (fng/saw)