Ini Kriteria Pemimpin yang Adil dalam Islam

0
484

Pasuruan (wartabromo.com) – Rukun Iman yang kelima adalah percaya Hari Akhir (Kiamat). Hari dimana semua makhluk berlarian karena takut diminta pertanggungjawaban oleh Allah S.W.T. Namun, ada golongan yang bakal mendapat perlindungan dari Allah di hari akhir. Salah satunya, Pemimpin yang adil.

Siapakah pemimpin yang adil itu?

“Pemimpin adil itu adalah pemimpin yang memikirkan rakyat,” terang Ust. A. Suyuti, Asatidz LDNU Kabupaten Pasuruan.

Dijelaskan kemudian, Pemimpin adil itu, bukan pemimpin yang menindas rakyat. Pemimpin yang bisa memberikan solusi terbaik bagi rakyat, bukan malah memakan yang bukan haknya.

Salah satu contoh pemimpin yang bisa menjadi teladan adalah, Umar bin Abdul Aziz.

Dikisahkan, suatu ketika, beliau sedang mencatat pembukuan negara di dalam ruang kerjanya. Kemudian putranya datang mengetuk pintu.

Sebelum mempersilahkan masuk, Umar bertanya kepada putranya “Ada apa engkau kemari, keperluan keluarga atau negara?”

Sang anak menjawab jika kedatangannya menemui ayahnya ingin membahas tentang keperluan keluarga. Selanjutnya, Umar mengizinkan anaknya untuk masuk ruangan, namun semua listrik dimatikan. Padahal sebelum putranya masuk, ruang kerjanya itu terang benderang.

Hal itupun mengundang penasaran si anak dan menanyakan tindakan ayahnya yang dinilai tak biasa itu.

Umar menjelaskan, “Tadi saya sedang melakukan pembukuan keuangan, jadi saya pantas untuk mendapatkan fasilitas negara. Tapi karena denganmu akan membahas urusan keluarga, maka saya tidak pantas menggunakan fasilitas negara. Saya takut dimintai oleh Allah pertanggungjawaban,” ujarnya.

Masyaallah, inilah kehebatan Umar bin Abdul Aziz, takut mengambil penerangan milik negara untuk kepentingan keluarga. Bagi kita mungkin itu hal sepele. Tapi bagi Umar, itu merupakan hal yang kelak pasti akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah S.W.T.

Selain pemimpin yang adil, ada kriteria lain yang kelak di hari akhir akan mendapatkan perlindungan Allah, yakni seorang pemuda yang mulai kecil sudah rajin beribadah. Salah satu contohnya, Kanjeng Syekh Abdul Qodir Jaelani. Ketika masih bayi, beliau tidak mau menyusu sebelum Maghrib. Ketika Maghrib, baru beliau mau menyusu. Masyaallah.

Selain pemuda ahli ibadah, seorang laki-laki yang hatinya selalu memikirkan kemakmuran masjid dan jamah di dalam masjid juga kelak akan mendapat pertolongan Allah. Sayangnya, di zaman sekarang sudah jarang orang yang memikirkan kepentingan masjid dan jamaah.

Semoga, kita semua bisa termasuk dalam golongan-golongan yang mendapat syafaat di hari Kiamat. (bel/may)