Kue Satru Laris Manis Jelang Lebaran

4247

Probolinggo (wartabromo.com) – Menjelang hari raya Idul Fitri, kue satru laris manis diburu kaum muslim di Kabupaten Probolinggo. Pembelian yang melonjak membuat pengusaha kewalahan melayani permintaan konsumen. Seperti yang dialami pengusaha satru di Desa Randu Jalak, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo.

Kue satru atau kue koya adalah kue kering tradisional populer. Terbuat dari bubuk kacang hijau manis berwarna putih yang hancur saat digigit. Kue tradisional ini, banyak diusahakan oleh warga Desa Randu Jalak. Salah satunya adalah Suhaemi (44), warga Dusun Krajan.

Di rumah Suhaemi, sejak pagi buta, 5 karyawan sibuk menyiapkan bahan baku pembuatan kue satru. Kacang hijau yang ada di gudang, kemudian disangrai dengan api kecil. Setelah itu, diselep menjadi tepung. Pasca diselep, tepung kacang hijau itu, dicampur dengan gula secukupnya. Kemudian dicetak sesuai tipe yang diinginkan.

Proses itu belumlah selesai, karena satru yang dicetak harus dijemur. Penjemuran selama setengah hari itu, dilakukan untuk agar renyah saat dioven. Pasca dioven selama 10 menit, satru kacang hijau siap dikemas.

Harga jualnya bervariasi, untuk kue satru ukuran kecil dijual Rp 60 ribu per kg. Sedangkan kue dengan ukuran besar dijual Rp 40 ribu per kg. Sementara kemasan ukuran 3 ons, dijual seharga Rp 20 ribu. Untuk ukuran 1/5 kg, dihargai Rp 30 ribu.

Selama Ramadhan ini, para pengusaha kue satru mengalami peningkatan omset. Jika pada bulan sebelum Ramadhan, rata-rata mereka hanya menghabiskan bahan baku kacang hijau sebanyak 1 kuintal. Namun, pada Ramadhan kali ini, sebulan mampu menghabiskan 1,5 ton kacang hijau. Bahkan naik dibandingkan Ramadhan tahun lalu yang hanya 1 ton saja.

“Ini usaha yang sudah turun temurun. Dengan beberapa inovasi, akhirnya berkembang pesat seperti saat ini. Saya misalnya, dalam Ramadhan ini sudah menghabiskan 1,5 ton kacang hijau. Meningkat dibanding hari-hari biasa dan tahun lalu,” kata Suhaemi, yang juga PNS di Puskesmas Besuk ini.

Kue satru produksi Desa Randu Jalak, oleh para konsumen dikenal sangat renyah. Selain gurih, juga tanpa bahan pengawet. Sehingga cocok dijadikan sebagai sajian saat lebaran nanti.

“Kue satru ini gurih dan renyah, keluarga saya suka sekali. Setiap tahun, pasti menyajikan kue ini sebagai sajian saat lebaran,” ungkap Endang Astutik, penggemar kue satru.

Di Desa Randu Jalak, kue ini diusahakan oleh sekitar 700 warga. Tersebar di 4 dusun, yaitu Dusun Krajan, Kosambi, Giran dan Gardu. Produksi paling ramai adalah saat menjelang Ramadan dan lebaran. Mereka memproduksi dan menjual produknya sebagai kue lebaran. Dalam periode itu, setiap orang bisa menjual antara 5 kuintal hingga 1,5 ton kue satru. (cho/saw)