Ketika Rapor Anak Tak Seindah Harapan Orang Tua

802
Sumber gambar: id.wikihow.com

Pasuruan (wartabromo.com) – Momentum pembagian rapor bagi orang tua merupakan salah satu kegiatan yang cukup membuat deg-degan. Tak jarang, para orang tua mengharapkan nilai yang tinggi, bahkan ada yang menegur hingga memarahi anak ketika nilai yang diperoleh tak sesuai harapan.

Hal itu bukan tindakan yang dibenarkan. Tak salah memang, mengharapkan anak berprestasi dibidang akademik, dan mendapatkan nilai diatas rata-rata. Namun, sebagai orang tua, bertindaklah bijak dengan juga memperhatikan usaha yang telah dilakukan anak untuk meraih angka-angka yang tertera dalam rapor.

Dikutip dari kumparan.com, salah seorang Psikolog, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, mengungkapkan, nilai berapapun yang didapat seorang anak, orang tua sebaiknya menunjukkan apresiasi atas usaha yang telah dilakukan.

“Ketika nilai sudah keluar, artinya sudah terjadi. Yang sudah terjadi, terjadilah. Can’t be undone,” ujar Vera.

Dijelaskan kemudian, kekecewaan para orang tua kepada anak-anaknya makin terusulut, lantaran aksi pamer orang tua lain yang putra atau putrinya mendapat nilai bagus. Jika sudah begini, anaklah yang ‘dikorbankan’.

Padahal, dengan terus menerus membandingan anak sendiri dengan anak lain, akan menimbulkan rasa cemburu dan rasa minder pada anak. Bahkan bisa menimbulkan stres hingga depresi. Nah, lagi-lagi sebagai orang tua, sepatutnya menyadari, bahwa setiap anak terlahir berbeda. Mereka memiliki keistimewaan dan keunikan masing-masing.

Lantas, apa saja yang harus dilakukan, agar anak dapat meningkatkan nilainya di tahun ajaran kemudian. Berikut, penuturan Vera:

1. Mengenali Gaya Belajar Anak

Gaya belajar dan kemampuan anak memahami sesuatu, masing-masing berbeda. Orang tua perlu tau bagaimana cara belajar yang nyaman versi anak, bukan dari sudut pandang orang tua. Ini mungkin dianggap sepele, namun sangat penting bagi anak.

2. Berdiskusi Bersama Anak

Berdiskusi dimaksudkan untuk membicarakan tentang pembagian waktu belajar dan waktu bermain. Nah, kemudian, orang tua dan anak harus membuat komitmen untuk menjalankan jadwal yang sudah dibuat bersama.

3. Membuat Target Pencapaian

Target yang dimaksud, adalah pencapaian-pencapaian sederhana ketika belajar. Contohnya, dalam sehari dapat mengerjakan 5 latihan soal. Atau apa saja yang disesuaikan dengan kebutuhan sang anak.

4. Mengenali Kelebihan Anak

Hal ini bertujuan untuk membangun rasa percaya diri dan semangat dalam menekuni baik bidang akademis maupun non akademis. Jika sudah kenal dengan apa minat dan kemampuan anak, sebagai orang tua harus selalu mendukung dan mengembangkan potensi anak. Tidak sedikit para orang tua yang bersedia “banting setir” menuruti kemauan sang anak, asal Ia bisa senang dengan pelajaran yang Ia sukai.

Nah gimana nih para Ayah dan Ibu, jadi nambah lagi kan ilmu parentingnya? (bel/may)