Menpan RB Beri Reward Inovasi Sakera Jempol Kabupaten Pasuruan

390

Semarang (WartaBromo.com) – Program Pemerintah Kabupaten Pasuruan “Sakera Jempol” (Sadari Kekerasan Perempuan dan Anak dengan Jemput Bola) mendapatkan pengakuan Inovasi Publik Terbaik Nasional. Bahkan, inovasi khusus menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak itu, menjadi peserta United Nation Public Service Awards (UNPSA) 2019 untuk kategori Promoting Gender Responsive Pubic Service to Achieve the SDGs.

Dari ajang itu, Bupati Pasuruan, HM Irsyad Yusuf diundang Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI (Menpan RB) untuk menerima penghargaan. Plakat penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI, Syafruddin kepada Bupati Irsyad Yusuf, di Hotel Gumaya Tower, Semarang, Kamis (19/07/2019) malam.

Ditemui setelah penganugerahan, Bupati Irsyad menyatakan, jika menjadi peserta UNPSA 2019 adalah sebuah kebanggaan. Namun, selain bisa dikenal di tingkat nasional hingga asia pasifik, hal paling penting dari program ini menurutnya adalah manfaat Inovasi Sakera Jempol yang bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

“Sebenarnya, yang terpenting bukan penghargaan. Tapi bagaimana bisa terus menjadikan Sakera Jempol lebih mengena ke masyarakat. Dalam artian, komitmen untuk terus memberikan perlindungan pada perempuan dan anak se-Kabupaten Pasuruan,” ucap Gus Irsyad, sapaan akrabnya.

Sejak periode pertama kepemimpinannya, masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak harus disikapi dengan serius. Artinya, sebisa mungkin diminimalisir dengan cara menggandeng semua pihak. Mulai dari tokoh masyarakat, orang tua, kepala desa, camat, dunia pendidikan, LSM, Ormas, sampai dengan OPD sebagai penggerak utama dari program anti kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pasuruan.

“Jangan sampai ada kasus lagi yang menjadikan anak dan perempuan sebagai korban kekerasan. Apalagi di zaman sekarang ini, tuntutan zaman ditambah dengan kecanggihan teknologi membuat kita harus bisa balance. Tetap hati-hati dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita,” tegasnya.

Apresiasi disampaikan untuk Dinas KB dan PP (Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan) yang memiliki PPT-PPA (Pusat Pelayanan Terpadu, Perlindungan Perempuan dan anak . Lembaga ini cukup intens melakukan sosialisasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak kepada semua target sasaran se-Kabupaten Pasuruan. Oleh karenanya, apabila terdapat kejadian kekerasan terhadap anak dan perempuan, amsyarakat tak sungkan untuk melaporkannya.

“Sudah gak zamannya lagi malu atau takut. Kalaupun memang ada kejadian atau masyarakat sendiri yang jadi korban. Jangan didiamkan, tapi laporlah ke PPT-PPA atau ke kepolisian. Ini baik agar tidak ada trauma yang berkepanjangan. Ketika sudah ditangani, InsyaAllah traumatic healing-nya (penyembuhan dari trauma) akan cepat sehingga bisa beraktivitas seperti biasanya,” tutur Irsyad.

Sementara itu, Yetty Purwaningsih, Plt Kepala Dinas KB-PP Kabupaten Pasuruan menjelaskan, sejak tahun 2013 hingga pertengahan tahun 2019, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak telah menurun secara signifikan. Selain kesadaran akan pentingnya melaporkan kejadian, pihaknya terus melakukan upaya jemput bola agar kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan bisa terus ditekan.

“Memang ada laporan, kebanyakan kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh anak-anak. Korban sudah kita dampingi supaya bisa segera pulih dan bisa beraktivitas sedia kala. Dan itu akan terus kita dampingi meskipun kita masih membuka ruang konseling sampai jemput bola ke semua lapisan masyarakat,” terang Yetty.

Ditambahkannya, dalam Inovasi Sakera Jempol, ada beberapa program yang terus dikembangkan. Di antaranya Fanspage Plus Molin (Mobil Perlindungan Perempuan dan Anak ), Hotline Jempol (Hotline Jemput Bola), Four Past (cepat, terdeteksi, cepat terlapor, cepat tertangani, dan cepat terehabilitasi), lanjut inovasi Ada Jempol (Advokasi Jemput Bola) yang merupakan pendampingan terhadap korban kekerasan pada perempuan dan anak di Kabupaten Pasuruan.

“Sakera Jempol merupakan sistem yang sederhana, unik, namun komprehensif dan aplikatif. Mulai dari promotif, prefentif hingga rehabilitative dari korban kekerasan perempuan dan anak,” imbuhnya.

Sakera Jempol oleh Yetty dikatakan mampu menjawab permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Hal ini diungkapnya dapat dibuktikan dari 3 indikator, yakni penurunan KDRT, peningkatan laporan kasus yang mengindikasikan ada kesadaran akan pentingnya melaporkan kasus kekerasan menjadi lebih baik.

“Tidak membutuhkan biaya yang sangat besar, namun dampaknya jauh lebih besar. Kita bersyukur banyak perubahan yang terjadi sesuai dengan harapan kita,” pungkas Yetty. (mil/ono)