Injak Tahun ke-1.090, Kabupaten Pasuruan Mau Apa?

448
Tetap berkutat pada susunan kata “menuju keadilan sosial”. Bagaimana soal ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan tetap ada ketimpangan. Padahal sudah menginjak tahun ke-1.090.

Laporan: Tuji

KABUPATEN PASURUAN sedang merayakan hari jadi ke-1.090. Barangkali boleh disebut telah berusia 1 milenium lebih 90 tahun.

Bisa dibayangkan begitu tuanya kabupaten yang diperkirakan memiliki jumlah penduduk 1,6 juta jiwa ini.
Indonesia merdeka saja masih menginjak 74 tahun.
Sangat jauh lebih muda dibandingkan usia Kabupaten Pasuruan, walau telah dipotong 1.000 tahun sekalipun.

Tapi, usia Kabupaten Pasuruan disandingkan dengan kemerdekaan RI? tentu tak selaras.
Karena bisa jadi memang tak bisa dibanding-bandingkan.

Baiklah.
Ungkapan kecil tersebut sedianya hanya membuka kembali kesadaran bersama, bahwa sudah sedemikian lama perjalanan Pasuruan merawat kumpulan pribadi-pribadi yang hidup di dalamnya.
Kumpulan yang bisa disebut masyarakat ini telah coba diatur, diarahkan dengan hak dan kewajiban melekat dalam suatu sistem tata kelola sebuah pemerintahan.

Anganan besar pemerintah dalam bekerja -sepanjang usia dimiliki-, selalu tak jauh dari kata dan kalimat: untuk kemajuan, kemakmuran, atau kesejahteraan masyarakatnya.

Dari keinginan yang dicatatkan itu, sampai saat ini nyatanya ada yang belum merasakannya. Sebagian belum sejahtera, sehingga kemiskinan di Pasuruan tetap menghantui.

Kata yang terus mengemuka tetap berkutat pada susunan kata “menuju keadilan sosial”.
Bagaimana soal ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan tetap ada ketimpangan. Padahal sudah menginjak tahun ke-1.090.

Maaf, bila saat ini tak memberikan angka pasti capaian kerja pemerintah terkini.
Hanya saja, menarik jika diperkenankan menilik tema besar yang diusung pada hari jadi Kabupaten Pasuruan tahun ini.

Pada pokoknya, perhatian difokuskan pada peningkatan kualitas keluarga dan pendidikan karakter.
Harapannya, tentu saja sebagaimana tagline selama lebih lima tahun terakhir digaungkan, yakni terwujudnya Kabupaten Pasuruan sejahtera dan maslahat.

Mencoba mencermati, jadi muncul pertanyaan menggelitik.
Seperti apa sih kualitas keluarga di Pasuruan? sampai-sampai saat ini masih perlu untuk ditingkatkan.

Lalu, pendidikan di Pasuruan sejauh ini bagaimana?
Karena selain sekolah umum, madrasah diniah (Madin) selama ini diketahui begitu masif digiatkan. Malah ada program wajib Madin, yang pendidikannya berkonsentrasi dan bermuara pada pembentukan karakter.

Bila peningkatan kualitas keluarga dicukupkan pada ikhtiar perbaikan perekonomian, diyakini memang menjadi prioritas pemerintah daerah.
Namun, bila disempitkan kembali ke persoalan pengangguran terbuka tahun ini, rekaman cakupannya terbilang cukup tinggi, sebanyak 6,11%.
Pengangguran itu, hampir semuanya lulusan sekolah menengah atas. Miris juga, ternyata didominasi kelompok usia produktif.

Over-all, Kabupaten Pasuruan sebenarnya memiliki pertumbuhan ekonomi, meski dalam skala cukup kecil. Dari data ada kenaikan 0,3%, dari 5,72% pada 2017 menjadi 5,75% pada 2018.

Bisa dibilang sayang –jika tidak naif-, pertumbuhan sebanyak itu dikatakan oleh seorang ahli dari Universitas Brawijaya, belum cukup berkualitas. Gara-garanya, bukan besaran pertumbuhan, melainkan lebih pada karena secara signifikan tidak membawa pengaruh terhadap pengurangan pengangguran.

Untuk itu, lowongan pekerjaan disebut-sebut bakal gencar dibuka, sehingga pengangguran terbuka bisa turun, setidaknya menjadi 5,08% ketika memasuki tahun 2020 mendatang.

Langkahnya apa dan bagaimana?
Bisa jadi investasi digenjot sedemikian rupa, diimbangi sampai adanya peningkatan konsumsi dari pemerintah maupun masyarakat.
Wallahua’lam.

Kemudian jika membincang soal pendidikan di Kabupaten Pasuruan, sebagaimana diungkap awal kalimat, maka tebersit istilah Wak Muqidin.
Akronim program pendidikan “Wayahe Kumpul Mbangun TPQ dan Madin” tersebut terbilang unggulan.
Pendidikan dengan mengedepankan sisi keagamaan itu bahkan dimaktubkan dalam Peraturan Bupati nomor 21 tahun 2016.

Perkaranya, sebagai pondasi/penopang dasar, dunia pendidikan dihadapkan pada begitu cepatnya perkembangan teknologi informasi. Secara umum era digital sudah tak bisa ditolak dan tak terbendung.

Bahkan ramai-ramai lembaga pendidikan tonjolkan diri, seakan menyatakan mampu “hidup” dan “menggenggam” teknologi. Macam siswa MAN 1 Pasuruan, yang tasbihkan diri jadi juara pada ajang Robofest Japan 2019.

Nah, bagaimana pada mereka yang selama ini berkutat pada dunia pendidikan -tak terkecuali lembaga pendidikan diniah-, menghadapinya?
Mampukah terus menjadi pondasi, sebagai penjaga hadapi arus teknologi dan digital saat ini. Teknologi kemudian menjadi kekuatan, tidak dikibaskan lalu terlempar oleh gempuran “dunia lain” yang terus melesat itu. ke halaman 2