Dibalik G-30 S : Keluarga Soeharto Mengungsi (2)

28692
Baru satu jam Soeharto memejamkan mata saat mendapat kabar penculikan 6 jenderal oleh PKI itu. Tanpa mandi, Soeharto langsung beranjak.

Laporan M. Asad

TUGINO, pembantu rumah tangga Soeharto bergegas mendekat ke Probosutedjo.
“Den, Ndoro Kakung sudah berangkat tadi pagi. Tadi ada orang datang melapor, katanya semalam ada tembak-tembakan di rumah Jenderal Yani dan Jenderal Nasution,” kata Tugino kepada Probosutedjo yang baru keluar kamar.

Mendengar itu, Probosutedjo pun terperangah. Belakangan, diketahui orang yang datang melapor adalah Komando Militer Kota Besar (KMKB) Mayor Sujasmin.
Tak butuh waktu lama baginya memikirkan apa yang sedang terjadi, adik kandung Soeharto ini pun bergegas ke RSPAD untuk menyampaikan kabar itu ke Mbakyu Harto, panggilan Probosutedjo kepada Ibu Tien.

Probosutedjo tak pernah menyangka bila laporan pendek sang pembantu tadi merupakan awal dari hiruk pikuk negeri ini, yang beban sejarahnya tak pernah habis hingga berpuluh-puluh tahun kemudian.
“Saya segera merasakan adanya gelagat bahaya,” sambung Probosutedjo.

Apalagi dari siaran radio yang didengarnya, terdengar suara Letkol Untung yang meneriakkan berita adanya usaha pemberontakan oleh Dewan Jenderal. Letkol Untung sendiri saat itu tercatat sebagai anggota Cakrabhirawa, yang merupakan pasukan elit pengawal Presiden Soekarno.

Sadar akan situasi genting yang terjadi, Probosutedjo tancap gas menuju rumah sakit. Namun, usahanya tak mudah lantaran jalan menuju RSPAD di Jalan Gambir sudah penuh dengan Tentara.
Ia pun kemudian memutar melalui Jalan Harmoni, ke arah Jalan Nusantara (kini Jalan Juanda) dan tembus ke Gunung Sahari hingga Senen.

Sampai di ruangan di mana Tommy dirawat, ia lantas menyampaikan apa yang sedang terjadi. “Kalau begitu, kita harus mengungsi. Untuk sementara jangan di Agus Salim (Jl. Agus Salim, rumah Soeharto,” kata Ibu Tien merespon penjelasan adik iparnya itu.

Jakarta saat itu benar-benar mencekam. Demi menjamin keamanan keluarganya, begitu sampai rumah, ia mencari kunci kamar Soeharto untuk mengambil beberapa pucuk pistol.

Sebuah rumah di Jalan Iskandarsyah, Jakarta kemudian dipilih sebagai lokasi pengungsian sementara.
Sementara keluarga Soeharto diungsikan di sana, Probosutedjo kembali ke rumah di Jalan Agus Salim.

Di rumah yang cukup besar itu, tak sekalipun ia berani menyalakan lampu. Sampai kemudian, belasan pasukan Kostrad tiba untuk ikut berjaga-jaga, ia akhirnya keluar. Sampai keesokan harinya, ia menjemput keluarga Soeharto untuk kembali ke rumah.

Baca: Dibalik G-30 S : Kemana Soeharto? (1)

Meski begitu, Ibu Tien tak bisa menutupi kegelisahannya. Sebagai penganut paham kejawen, Ibu Tien punya kebiasaan khusus untuk membuat sesajen pada hari-hari khusus.
Ketika kegelisahan itu begitu meliputi hatinya lantaran menanti kabar suaminya, Ibu Tien kemudian berinisiatif untuk membuat sesajen.
Ada kue-kue tradisional, kopi, teh, buah-buahan, dan bunga yang dipersiapkan untuk melakukan ‘ritual’ itu.

Tepat pada 3 Oktober, kabar keberadaan Soeharto akhirnya diperoleh dari ajudannya, bila sang jenderal tengah berada di markas Kostrad untuk mengendalikan situasi. (*)