Dibalik G-30 S : Soeharto Minta Bung Karno Siarkan Pemberian Mandat

6893
Soeharto sempat tak ingin ikut campur lagi dalam pengambilan keputusan dalam rangka pemulihan keamanan pasca G-30 S. Sampai kemudian, Bung Karno bersedia menyiarkan rekaman suaranya yang berisi pemberian mandat kepadanya.

Laporan M. Asad

1 OKTOBER 1965, bisa jadi merupakan hari paling padat dalam hidup Soeharto. Strategi, pemanggilan, diskusi, hingga perintah datang dengan cepat.
Setelah memanggil staf dan menghubungi para petinggi menteri panglima angkatan darat, Soeharto juga mengontak Jenderal Nasution yang selamat dari penculikan.

Dalam kondisi pincang karena cedera di kaki lantaran tertembak, Nasution lantas datang memenuhi undangan Soeharto.
“Sore hari dia datang menemui Mas Harto, bersamaan dengan munculnya Sarwo Edhi yang baru saja berhasil merebut gedung RRI dan Telkom,” kata Probosutedjo dalam memoarnya.

Tokoh penting lain yang ingin segera ditemui Soeharto saat itu adalah Presiden Soekarno.
Dikatakan Probosutedjo, kematian Letjend A. Yani, Mayjend Soepraptp, Mayjend S. Parman, Mayjend Haryono, Brigjend DI. Pandjaitan, Brigjend Sotojo, dan Lettu Pierre Tendean membuat Soeharto bekerja keras untuk mencari kejelasan.

Tepat pada 2 Oktober, Bung Karno kemudian meminta Soeharto datang ke Halim Perdana Kusuma bersama Mayjend Oemar Wirahadikusumah yang saat itu menjabat sebagai Pangdam Jaya. Tapi, Soeharto menolaknya.

Merujuk memoar Probosutedjo yang ditulis Albertheine Endah, Soeharto khawatir dengan keselamatan Oemar.

Penolakan Soeharto agar mengajak Oemar membuat Bung Karno tersinggung. Karena itu, oleh Bung Karno, Soharto yang tiba di Halim diminta kembali pulang dan memintanya datang ke Istana Bogor. Perintah itu dipenuhi keesokan harinya, 3 Oktober 1965.

Ajudan Soeharto, Kapten Zeni Bob Sudiyo turut mendampingi. Oleh Soeharto, ia bahkan diminta membawa contoh-contoh senjata yang dipakai Laskar Pemuda Rakyat yang berhasil disita tentara. Sebab, dari senjata itu, bisa dibuktikan adanya kesesuaian dengan senjata organik yang dimiliki AURI.

Menurut Probosutedjo, sejumlah pihak ikut hadir dalam pertemuan yang berlangsung tegang itu. Di antaranya Chaerul Saleh, Omar Dhani, Leo Watimena dan Pranoto Reksosamudra.

Keberadaan Omar Dhani yang saat itu menjabat sebagai Panglima Angkatan Udara membuatnya berinisiatif untuk langsung menunjuk hidung.

“Mas Harto mengemukakan, terbukti AURI ikut campur dalam aksi penculikan –yang disebut- oleh PKI. Atau kalau tidak dibilang begitu, pasti ada oknum di dalam AURI,” terang Probosutedjo.
Sikap blak-blakan itu sontak membuat Omar Dhani yang saat itu juga ada di ruangan tak bisa berkata apa-apa.

Tetapi, respon Bung Karno atas penjelasan itu yang membuat Soeharto kecewa. Dijelaskan dalam memoar tersebut, Bung Karno kala itu meminta Soeharto tidak mudah mengambil kesimpulan. Apalagi, sampai menuduh AURI terlibat dalam aksi penculikan para jenderal Angkatan Darat tersebut.

“Bung Karno meminta Mas Harto kalem. Tidak kalap dengan menuduh AURI dan PKI. Menurut Bung Karno, dalam sebuah revolusi, situasi seperti itu hal yang wajar, tidak perlu dibesar-besarkan, apalagi diributkan,” tulis Probosutedjo.

Hal kedua yang juga sempat membuat Soeharto kecewa adalah keputusan Bung Karno yang mengangkat Pranoto Reksosamudro, yang saat itu menjabat Asisten III Menteri Panglima Angkatan Darat sebagai Pelaksana Harian Komando Angkatan Darat.
Keputusan itu langsung direspons Soeharto dengan menyatakan tidak lagi ikut campur dalam pengambilan keputusan pengamanan negara.

Baca: Dibalik G-30 S : Soeharto Halau Pasukan ke Jakarta (3)

Melihat gelagat itu, Bung Karno akhirnya tetap memberikan mandat Soeharto sebagai pemegang kendali keamanan. Soeharto pun menerimanya dengan catatan, pernyataan itu direkam dan disiarkan langsung melalui radio (RRI).

Rekaman itu akhirnya dibuat. Di mana, inti remakan tersebut, Bung Karno memercayai Soeharto sebagai komandan pemulihan keamanan dan ketertiban. (*)