Menyelami Sejarah Tengger (1)

538
Seorang pemuda suku Tengger tengah pulang dari ladang. Foto: M As'ad
Tengger, bisa dikatakan merupakan satu-satunya wilayah Jawa di masa modern yang masih memiliki tradisi Hindu-Budha hingga kini.

Laporan M. Asad

HIDUP damai, tentram, tanpa gejolak memang begitu lekat dengan masyarakat Suku Tengger. Hal itu tak lepas dari filosofi Tengger yang berarti Tengering Budi Luhur. Atau, jika di-bahasa Indonesia-kan, petanda budi luhur.

“Itulah kenapa, masyarakat Tengger sangat damai. Jarang sekali kita melihat ada konflik, pertikaian di Tengger,” kata Sutomo, sesepuh Suku Tengger kepada WartaBromo.com, tengah tahun lalu.

Dalam sejarah, bagaimana asal mula Tengger masih simpang siur lantaran minimnya bukti yang bisa menjadi sumber referensi. Beberapa sumber banyak mengaitkan Tengger dengan legenda pasangan suami istri Joko Seger dan Roro Anteng yang hidup pada masa kerajaan Majapahit, sebagai cikal bakal masyarakat Tengger.

Konon, menurut legenda yang berkembang di masyarakat, Pasutri ini memiliki 25 anak. Salah satunya, dijadikan tumbal ke kawah Gunung Bromo sebagai garansi keselamatan saudara-saudaranya dan juga masyarakat yang lain.

Sebagian sumber lain menyebutkan, masyarakat Tengger lahir dari orang-orang Majapahit yang melarikan diri ke kawasan Gunung Bromo usai diserang pasukan Kerajaan Demak.
Menurut cerita tersebut, hal itu pula yang menjadi alasan kenapa masyarakat Tengger mayoritas sebagai penganut Hindu sampai sekarang.

Tetapi, ada juga cerita lain perihal sejarah masyarakat Tengger yang juga banyak diakui kebenarannya.
Menurut versi ini, masyarakat Tengger sudah ada jauh sebelum hadirnya Pasutri Joko Seger dan Roro Anteng muncul.
Hal itu dibuktikan dengan adanya temuan prasasti Walandhit I yang diperkirakan ditulis pada zaman Mpu Sendok, era Mataram Kuno.

Di mana, dalam prasasti itu, disebutkan, pemerintah kala itu memberikan sebidang lahan di kawasan Hila-hila (diperkirakan di kawasan Penanjakan) untuk dihuni kaum Brahma.
Hak istimewa itu diberikan lantaran dalam strata agama Hindu, kaum Brahma merupakan orang-orang suci.

Bukan hanya hak lahan. Karena kesucian kaum Brahma, pemerintah kala itu juga membebaskan mereka dari kewajiban membayar pajak kepada negara.
Nah, orang-orang suci yang menghuni tanah Hila-hila inilah yang diyakini sebagai cikal-bakal warga Tengger.
Bahkan, dari cerita ini nama Gunung Bromo berasal.

Gunung Bromo. Foto: istimewa

Laman Wikipedia menyebutkan, ada dua prasasti Walandhit yang sempat dibuat sebagai penanda hak istimewa yang diberikan kerajaan kala itu.
Pertama, dibuat pada era Mataram Kuno sebagai instruksi pertama pemberian hak istemewa kepada kaum Brahma kala itu.
Kedua, pada era Majapahit, tepatnya Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Madanya.
Prasasti kedua dibuat sebagai penegasan atas prasasti pertama.

Masih menurut sumber yang sama, Raja Hayam Wuruk merasa perlu membuat penegasan itu menyusul upaya desa lain untuk menguasai tanah Hila-hila dan memungut pajak dari warganya.
Untuk menghentikan upaya itu, Raja Hayam Wuruk kemudian menitahkan agar itu tidak dilakukan, sebagaimana yang tertulis pada prasasti Walandhit II.

Keyakinan sebagai penghuni tanah suci itu rupanya masih dipegang masyarakat Tengger hingga kini.
Melalui banyak kesempatan, ajaran-ajaran kebaikan senantiasa ditanamkan kepada generasi penerus sampai sekarang.
Karena itu, tidak mengherankan jika masyarakat Tengger lekat dengan sikapnya yang patuh, enggan berkonflik. Dengan penguasa sekalipun.

Bagaimana jika penguasa ternyata lalim? Warga Tengger tak terlalu ambil pusing. Ada hukum karmapala yang mereka yakini. Di mana, siapapun yang berbuat baik, akan kembali mendapat kebaikan.
Begitu juga sebaliknya. Mereka yang berbuat keburukan, akan mendapatkan balasannya. Kapanpun itu.

Wilayah Suku Tengger memiliki luas sekitar 40 kilometer dari utara ke selatan dan 20-30 kilometer timur ke barat. Kawasan ini berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan air laut.

Dari sisi epistemologis, Tengger berasal dari dua kata anteng yang berarti tenang, tidak banyak tingkah, serta tidak mudah terusik.
Sementara ger, berasal dari kata seger yang bermakna sehat dan sejahtera.

Makna dari kata itu bisa dilihat dari keseharian warga Tengger yang tampak sederhana, tenteram, damai, suka gotong royong, toleran, dan pekerja keras.
Sehari-hari, mereka menghabiskan waktunya di ladang, sebelum akhirnya kembali pulang sore. ke halaman 2