Menyelami Sejarah Tengger (1)

599
Seorang pria suku Tengger tengah menikmati kedamaian. Foto: M. As’ad

Sebagaimana dikutip dari Ngalam.id, masyarakat Tengger memiliki karakter yang patuh pada pimpinan atau penguasa (sabda pandhita ratu); taat melaksanaan selamatan perayaan hari besar dan upacara adat; serta menjaga kerukunan.

Sifat pergaulan warga Tengger adalah komunal. Antar warga memiliki hubungan emosional dan batin yang kuat.
Hal itu yang kemudian dipraktikkan dalam sikap yang suka membantu dan saling menolong antar sesama dan kerabat.

Sikap saling tolong menolong itu pula yang tercermin dari kegiatan bercocok tanam di ladang, mendirikan rumah, hajatan warga, hingga mengatasi bencana. Seperti tanah longsor yang memang jamak terjadi akibat kontur alam dan sebagainya.

Robert W Hefner, seorang peneliti menyebutkan, selama berabad-abad masyarakat Tengger selalu mengidentikkan dirinya sebagai orang gunung yang berbeda dengan masyarakat di dataran rendah.

Penyebutan ini mereka gunakan untuk menunjukkan perbedaan dalam masalah hierarki dan pola interaksi.

Masyarakat gunung (Tengger) memiliki karakteristik yang khas. Mereka hidup komunal dengan tingkat kepatuhan yang tinggi pada pimpinan. Mereka meyakini, bahwa penduduk setempat berasal dari satu nenek moyang yang sama.
Karena itu, yang membedakan masyarakat Hindu Tengger dengan di tempat lain adalah karakter stratifikasi sosialnya yang tidak terlihat.

Masyarakat Tengger memiliki sifat kepribadian yang khas.
Beragama Hindu yang berpadu dengan adat istiadat dan kepercayaan setempat, masyarakat Tengger bisa dikatakan masih bersifat tradisional. Bahkan, nilai-nilai tradisional itu masih berlaku dan bertahan hingga kini.

Mereka pun hidup sangat sederhana, penuh kedamaian laiknya masyarakat petani di daerah pegunungan.

Sejak awal Hindu di Indonesia, pegunungan Tengger memang diakui sebagai tanah suci (hila-hila).
Penghuninya dianggap sebagai abdi spriritual tunggal sebuah sebutan hulun (abdi).

Fakta itu terungkap dalam prasasti walandhit dari abad X yang ber-angka tahun 851 saka (929 Masehi).

Adanya prasasti itu diperkuat dengan ber-angka tahun 1327 saka atau 1405 Masehi yang ditemukan di daerah Penanjakan, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Pada prasasti ini disebutkan, bahwa Desa Walandhit dihuni oleh Hulun Hyang (abdi Tuhan) dan tanah sekitarnya disebut hila-hila. Karena itu, desa tersebut dibebaskan dari pajak. (bersambung) ke halaman awal