Ustaz di Nguling Dihajar Tetangga dengan Arit saat Ngaji di Musala

5422

Nguling (WartaBromo.com) – Seorang warga Desa Mlaten, Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan, dihajar dengan senjata tajam oleh tetangganya, Kamis (31/10/2019). Polisi masih melakukan penyelidikan terkait kasus penganiayaan ini.

Peristiwa bermula ketika korban bernama Usman (70) tersebut, tengah mengaji di dalam sebuah musala, tak jauh dari rumahnya.

Seperti rutin dilakukan, khataman Alquran tiap Kamis, Usman menggunakan pengeras suara yang ada di musala.

Tapi saat fokus melafazakan ayat suci, tiba-tiba Samid (65) marah-marah, masuk ke dalam musala bercat hijau kombinasi putih itu.

Celakanya, marah-marahnya Samid ini dibarengi dengan membawa arit, yang kemudian disabetkan ke arah Usman.

Karuan saja, Usman berteriak minta tolong, mencoba keluar menghindari amukan Samid.

Untung saja, warga mengetahuinya dan segera memberikan pertolongan, setelah mencoba mengamankan Samid berikut arit yang dibuat menghajar Usman.

Adik korban, Muhaimin mengungkapkan, Samid diketahui kerap menunjukkan sikap berlebihan ketika mendengar suara keras, seperti yang dilakukan Usman kali ini.

Sikap aneh itu kerapkali ditunjukkan dengan melabrak seseorang yang tengah beraktivitas di dalam musala.

Karena prilakunya itu, Samid oleh sejumlah warga sempat dianggap memiliki kelainan jiwa atau gila. Namun, Muhaimin tak sependapat dengan asumsi soal kejiwaan Samid

Menurut Muhaimin, tetangganya itu sehari-hari tidak menunjukkan sikap selayaknya seseorang yang tengah terganggu jiwanya.

“Kalau kelainan jiwa sudah dari dulu bunuh orang itu. Memang sengaja itu,” kata Muhaimin.

Saat ini, Usman, yang selama ini dikenal sebagai guru ngaji itu telah mendapatkan perawatan medis. Bahkan, ia dilaporkan sudah bisa berkumpul bersama keluarganya, meski kening sisi kiri, pipi kanan, dan lengannya tertempel perban.

Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Slamet Santoso mengatakan, pihaknya telah mengamankan pelaku penganiaya sang ustaz.

Dari pengumpulan keterangan saksi dan korban, polisi mendapat kejelasan, jika Samid tiba-tiba marah, tak menghiraukan perkataan Usman, yang memintanya untuk tenangkan diri.

“Jadi marah-marah. Korban berusaha menenangkan, malah dibacok oleh pelaku,” terang Slamet, terkait kronologi yang dicatatnya.

Upaya penyelidikan masih dilakukan, setidaknya untuk mendapatkan kepastian motif penganiayaan, apakah terdapat dendam maupun unsur-unsur lain yang mengarah pada peristiwa kekerasan ini.

Hanya saja, untuk menegaskan dugaan kelainan jiwa, seperti yang ditudingkan sebagian warga, pihaknya masih membutuhkan penjelasan medis untuk menguatkannya. (ono/ono)