Fakta Si Cendol Dawet Seger

535

Pasuruan (WartaBromo.com) – Jargon cendol dawet limaratusan, sedang populer di kalangan masyarakat. Minuman lawas ini kembali menggema setelah jadi jargon lagu dangdut.

Tapi, siapa yang menyangka jika ternyata cendol atau dawet menyimpan fakta menarik. Dibalik rasa manisnya cendol, ternyata cendol pernah masuk dalam “50 of the World’s Best Desserts” milik CNN Travel. Sayangnya, cendol yang masuk dalam daftar tersebut, berasal dari Singapura.

Nah, biar tidak keliru lagi, wartabromo menulis beberapa fakta menarik tentang dawet, simak ulasannya berikut ini :

1. Sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit

Dikutip dari IDN Times, Murdijati Gardjito, peneliti Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gajah Mada, mengungkapkan, cendol sudah ada sejak masa Kerajaan Majapahit, yakni tahun 1323.

Dikisahkan, saat babat alas menjaga perbatasan, Raden Kembangjoyo bertemu dengan Kisagulo. Kisagulo menjelaskan kepada Raden Kembangjoyo mengenai kelezatan dawet. Dia pun memberitahukan bahwa santanlah yang membuat dawet terasa sangat enak.

Rasa dawet yang enak itu membuat Raden Kembangjoyo merasa menerima ilham dan memberi nama daerah tersebut Kadipaten Pesantenan. Hingga saat ini, Kadipaten Pesantenan masih ada. Namun, berganti nama menjadi Kabupaten Pati di Jawa Tengah.

2. Pernah dianggap asal Singapura

Menurut Murdijati, itu terjadi lantaran, perluasan besar-besaran yang dilakukan kerajaan Majapahit hingga ke wilayah Singapura. Hanya saja, karena adanya akulturasi, orang menyebutnya laksa.

Sebenernya, cendol tidak hanya tersedia di Indonesia. Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand juga punya cendol. Hanya saja berbeda versi.

Nah, terkait asal muasal cendol, Mudijati mengungkapkan, Indonesia masih kalah dalam hal literasi. Begitu tokohnya mati, pengetahuannya ikut mati, tidak ada peninggalan tulisan. Hal itu dinilai membuat bukti otentik tentang asal usul cendol tak dikenali.

3. Setiap daerah punya keunikan tersendiri

Orang Jawa Tengah dan Jawa Timur mengenal cendol sebagai dawet. Beda lagi orang Jawa Barat, menyebutknya cendol. Itu lantaran bentuk yang keluar dari cetakan bulat, ndol-ndol (istilah sunda).

Bukan hanya beda penyebutan, bahan dasar cendol juga bermacam-macam. Ada yang menggunakan tepung terigu, tepung beras, teoung tapioka atau lainnya. Warnanya pun beda-beda. Mulai dari hijau yang paling umum, putih, pink, bahkan hitam. Biasanya kalau cendolnya warna hitam, itu khas dari Kebumen.

4. Selalu ada dalam tradisi Jawa.

Dawet menjadi salah satu menu wajib dalam tradisi Jawa. Dawet dianggap sebagai simbol kelancaran. Jika disuguhkan dalam acara pernikahan, berarti diharapkan rezekinya lancar.

Berbeda ketika disuguhkan dalam acara 7 bulanan, berarti berharap agar bayinya dapat lahir dengan lancar dan mudah, layaknya dawet yang keluar dari cetakan.

Udah pada ngiler ya? (bel/may)