Belajar Kepemimpinan dari Arsal Sahban

1560
Kapolres Lumajang saat memberikan keterangan pers pasca penggerebekan pengedar narkoba.
“Arsal pergi, aksi kriminal kembali menjadi-jadi”

Oleh : Maya Rahma

KEPINDAHAN AKBP Arsal Sahban dari Lumajang ke Kota Bogor menjadi kesedihan tersendiri bagi warga. Sosok pimpinan polisi di Lumajang selama setahun terakhir ini dipuja-puja warga Lumajang.

Bukan hanya karena wajah yang rupawan, namun ketangkasan dalam menyelesaikan berbagai kasus.

Dulu, diawal kepemimpinannya, wartabromo sempat bertamu ke ruangan Arsal. Kami bertukar cerita, utamanya soal ketidak-amanan di Lumajang yang jadi momok warga.

Warga Lumajang phobia keluar malam karena marak begal. Rasa takut pelihara sapi karena banyak maling, dan lain sebagainya.

Arsal sudah mendengar keluhan-keluhan tersebut, bahkan sebelum pindah ke Lumajang.

“Kata rekan saya di Jakarta pun, Lumajang terkenal jadi Kota Begal. Serem cap-nya,” ceritanya beberapa waktu lalu.

Dari modal itu, putra Makassar ini kemudian blusuk-an ke berbagai wilayah di Lumajang. Dari yang hanya wilayah kota, sampai ke pelosok-pelosok Desa.

“Saya turun langsung, dalam waktu singkat, semua Polsek di Lumajang sudah saya sambangi di awal kepemimpinan,” lanjut Arsal.

Arsal mengaku jarang sekali berada di ruangannya dalam urusan administrasi. Bahkan Wakapolres Bogor Kota ini mengaku jarang memiliki waktu bersama keluarga karena blusuk-an itu.

Hasilnya terlihat sangat jelas. Beberapa inovasi berhasil didapatkan. WartaBromo pernah menuliskan inovasi-inovasi yang didapatkan Polres Lumajang di kepemimpinan Arsal. Coba cek disini.

Inovasi ini tentunya dibarengi dengan rasa aman yang didapatkan warga Lumajang. Banyak polisi patroli di malam hari, pun juga cepatnya laporan masuk ke Polres Lumajang jika ada sebuah kasus.

Hal ini tak lepas dari “garangnya” sosok Arsal. Kenapa garang? Arsal tak main-main dalam menumpas kejahatan.

“Saya memang memerintahkan anggota yang ada di lapangan agar dengan tegas menembak para pelaku pengacau di wilayah Lumajang,” ujar Arsal pada awal Januari lalu.

Pengacau tersebut yakni pelaku yang membahayakan petugas dan warga. Awal memimpin kepolisian Lumajang, sebanyak 8 pelaku kejahatan yang mencoba kabur dan melakukan perlawanan saat ditangkap petugas, telah dilumpuhkan.

Sekarang sudah puluhan pelaku kriminal yang sudah dilumpuhkan. Bahkan pada akhir masa jabatan, 2 pelaku pembunuhan sopir truk pasir ditembak mati.

Ketegasan ini membuat para pelaku kriminal ciut. Sempat ada pengakuan dari salah seorang pelaku kriminal jalanan, jika kawan-kawannya “mengungsi” ke kota sebelah karena takut tertangkap.

Pengakuan ini rupanya cukup terbukti. Bukan menakut-nakuti, namun semenjak kabar kepindahan Arsal mencuat, para pelaku kriminal kembali jarah Lumajang.

Di awali dengan adanya begal sadis yang membuat patroli besar-besaran. Lalu dilanjutkan maraknya pencurian sapi. Peristiwa yang paling membuat ngeri yakni pembunuhan. 3 warga Lumajang terbunuh dengan berbagai motif.

Isu ini disadari betul oleh Arsal. Ia kemudian meminta warga kembali tidak takut dan khawatir. Menghilangkan feel of crime.

“Saya yakin, Tim Cobra akan terus memburu para pelaku kejahatan ada ataupun tidak ada saya. Tim yang saya ciptakan saat ini sudah sangat solid dan memiliki kemampuan yang mumpuni,” ujarnya.

Agaknya ini menjadi tugas berat Kapolres baru melanjutkan perjuangan menumpas kejahatan. Meski semua polisi tentunya punya style sendiri dalam memimpin. Namun, cara Arsal bisa jadi contoh kepemimpinan di Lumajang yang cukup berhasil.

Menghadapi perilaku bebal para kriminal Lumajang, butuh sosok garang dan berani ngobrak-ngobrak. Tapi kita tunggu saja, aksi Kapolres baru, AKBP Adewira Negara Siregar menumpas kriminalitas jalanan.

Selamat bertugas di tempat baru Arsal…

Selamat datang di Lumajang Adewira… (*)