Membaca Komen Nyinyir Netizen ke IDI Soal Ningsih Tinampi

19129
Setidaknya fenomena Ningsih Tinampi ini bisa menjadi cermin diri para bapak/ibu dokter, perawat, dan pemangku kebijakan.

Oleh Tuji

ANTARA pingin ketawa apa ngelus dada.
Upload-an berita berjudul “IDI Soroti Praktik Penyembuhan Ningsih Tinampi” di fanpage dan group Facebook Wartabromo.com banyak dipenuhi komentar kocak bernada satire.

Komentar lebih bersifat miring terhadap dokter, malah terkesan mendukung upaya Ningsih Tinampi, yang asal Pandaan, Kabupaten Pasuruan itu dalam menangani penyakit.

Beberapa komen itu di antaranya :

Sadar diri dok, sampean ngelayani pasien yo pilih-pilih ūüė¨,” tulis akun Rahwana.

g usah berdebat …nyatanya aja …opo onok wong antri berobat nganti puluhan ewu …..gitu aja ra sah tersinggung p dokter … (Tak perlu berdebat. Nyatanya, apa ada orang antre berobat sampai puluhan ribu. Gitu aja, Jangan tersinggung Pak Dokter),” akun FB Pak Yuwono.

Ya maklumlah banyak Dokter gak laku,” kalimat akun Jabrik.

Namun, ada juga sih yang mencoba lebih logis, memercayai ikhtiar penyembuhan secara medis, seperti komentar akun Mochammad Sholehuddin berikut:

Ya benar. Mending ke dokter saja lebih rasional,”

Secara umum, ungkapan IDI Kabupaten Pasuruan melalui ketuanya, dr Sujarwo tersebut, sebenarnya ingin membuka fakta, bila terdapat pasien yang secara medis didiagnosis terkena suatu penyakit.

Mestinya –menurut dr Sujarwo– sakit sang pasien dapat disembuhkan melalui upaya dan langkah-langkah pengobatan medis pada umumnya.

Hanya saja, “bara” Ningsih Tinampi tak terbendung, sampai-sampai mereka -yang dapat disembuhkan oleh medis itu-, malah lebih memilih pengobatan dengan pendekatan supranatural.

Pada titik lain, dr Sujarwo kepada WartaBromo juga menyampaikan kepercayaannya soal hal-hal gaib. Perihal di luar batas kewajaran itu memang mengakar kuat di tengah masyarakat.

Namun demikian, ia menegaskan sepatutnya proses pengobatan tak dilakukan dengan cara atau model Tinampi, bila memang secara medis dapat disembuhkan.

Terlihat jelas terdapat perubahan perilaku dan perhatian masyarakat terhadap problematika kesehatan. Pemicunya, tentu saja keberadaan Ningsih Tinampi.

Harapan sembuh dan ingin melanjutkan hidupnya, seakan-akan sudah disampirkan pada hal-hal, yang disebut oleh para dokter itu, di luar nalar.

Bila diperhatikan dengan seksama, komentar netizen +62 itu, boleh dibilang merupakan puncak dari sikap skeptis terhadap layanan medis selama ini.

Perasaan tak percaya kemudian ditampakkan dengan memberikan komentar negatif terhadap sikap Ikatan Dokter Indonesia itu, terkait praktik pengobatan alternatif Ningsih Tinampi.

Bagaimana layanan medis yang selama ini dialami pasien dan keluarga pasien di tiap jenjang fasilitas kesehatan, seperti Puskesmas hingga rumah sakit, dinyatakan tak dipenuhi dengan baik.

Soal sikap paramedis, mulai perawat hingga dokter pun disebut tak aware terhadap pasien.

Alih-alih merasa disembuhkan, banyak pihak mengungkapkan, pilihan mencari layanan medis malah membikin masalah baru, lantaran duit yang dikeluarkan untuk berobat mencekik leher.

Barangkali, tulisan-tulisan pada kolom komentar di fanpage maupun group Facebook Wartabromo.com itu, hanya sedikit gambaran curahan hati, mereka yang selama ini merasa dikuyo-kuyo oleh sikap paramedis. Entahlah.

Tapi, setidaknya fenomena Ningsih Tinampi ini bisa menjadi cermin diri para bapak/ibu dokter, bapak/ibu perawat, bapak/ibu jajaran direksi rumah sakit, bapak/ibu pemangku kebijakan untuk menjadi lebih arif, lebih bijaksana.

Se-enggak-enggaknya, ada kesadaran bareng-bareng untuk terus memberikan perhatian dan layanan primanya, terutama terkait layanan medis ke warganya.

Persoalan kinerja layanan kesehatan ini sedianya sudah menjadi sorotan, tak hanya warga. Sekelas Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga tak lepas mencatatkannya.

Sebut saja pada laporan hasil pemeriksaan kinerja atas efektivitas pengelolaan sumber daya kesehatan dalam penyelenggaraan program jaminan kesehatan nasional tahun 2017 dan semester I 2018 pada Pemerintah Kabupaten Pasuruan.

BPK waktu itu menguliti betul bagaimana kinerja instansi kesehatan yang boleh dibilang mendapatkan penilaian kurang baik.

Satu hal di antaranya adalah ketersediaan dokter di rumah sakit Bangil hingga Puskesmas yang tersebar di 24 kecamatan, tak sebanding dengan jumlah warga yang harus dicukupi pelayanannya.

Rasio tenaga medis itu begitu timpang dan cukup bikin geleng-geleng kepala. BPK ungkapkan, 1 dokter harus menanggung rata-rata lebih 50 ribu warga Kabupaten Pasuruan. ke halaman 2