Akses Utama Terdampak Longsor, Wisatawan Bromo Diminta Waspada

401

Probolinggo (wartabromo.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo langsung mengambil langkah taktis di lokasi ambrolnya Tembok Penahan Tebing (TPT) di ruas Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Wisatawan dan warga yang melintas di jalur tersebut diminta waspada.

Langkah taktis itu adalah dengan menurunkan tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR). Tim ini, membuat penahan tebing dari karung pasir. Tujuannya mengarahkan air hujan di jalan supaya tidak memperparah longsoran sepanjang 17 meter dengan ketinggian 10 meter itu.

“Sejak tadi pagi, kami sudah di lokasi untuk memetakan langkah darurat. Setelah usai Salat Jumat dilanjutkan dengan menyusun karung-karung pasir di lokasi,” kata Kabid Bina Marga DPUPR setempat, Asrul Bustami pada Jumat siang, 6 Desember 2019.

Penambahan rambu-rambu menurut Asrul, juga dilakukan. Untuk memperkuat langkah kedaruratan yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Pasca TPT program Provincial Road Improvement Maintenance (PRIM) ambrol, petugas TRC BPBD memasang garis kuning.

“Selain itu, juga menambahi rambu-rambu supaya pengendara lebih berhati-hati,” kata warga Kelurahan Patokan, Kecamatan Kraksaan itu.

Bahu jalan jalur arah Gunung Bromo yang mengalami longsor berada di koordinat -7,91358, 113,03242, 1273,9m, 266° Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pusdalops PB, Tagana dan DPUPR dan masyarakat melaksanakan langkah kedaruratan.

“Mengimbau kepada masyarakat, pengunjung atau wisatawan yang melalui jalur tersebut untuk lebih berhati-hati dan waspada. Sebab dikhawatirkan terjadi longsor susulan, mengingat hujan lebat berpotensi turun di kawasan tersebut,” imbau Kalaksa BPBD setempat, Anggit Hermanuadi.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, Tembok Penahan Tebing (TPT) program Provincial Road Improvement Maintenance (PRIM) di ruas Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo ambrol pada Kamis sore, 5 Desember 2019.

TPT diduga tak kuat menahan terusan air sungai pasca hujan lebat. Sehingga membuat longsor dan separuh jalan di bawah tugu penanda (signage) Wisata Agropolitan retak.

Oleh warga sekitar, diberikan tanda seadanya. Seperti karung berisi pasir dengan ditambah tangkai pohon untuk memperjelas tanda rawan. Untuk perbaikan lebih lanjut, warga mengusulkan agar tebing sebelah timur jalan. Guna menghindari longsor susulan dan memperlancar arus lalu lintas. Apalagi lahannya milik pemerintah, yakni pengembangan bibit pertanian milik Provinsi Jawa Timur. (cho/saw)