Juama, Besarkan Tiga Anak Difabel Sendirian

4394

Sumberasih (wartabromo.com) – Puluhan tahun Juama, janda asal Dusun Mawar, Desa Pesisir, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, berjuang hadapi kerasnya hidup. Bahkan di usianya yang sudah setengah abad lebih, ia harus menghidupi ketiga anaknya yang difabel.

Saat dikunjungi wartabromo.com, Juama berkisah tentang perjalanan hidupnya. Hidup yang indah berubah menjadi pahit, tatkala sang suami, Madrai memilih pergi. Sesaat setelah kelahiran putra keempatnya, Juari kini berusia 30 tahun. Ketika itu, Juari lahir dengan kondisi tak bisa melihat.

“Dia lebih memilih pergi dengan tindakannya (selingkuhannya). Meninggalkan saya dan anak-anak. Sejak saat itu, saya harus berjuang sendiri, menghidupi anak-anak,” kisah wanita berusia 55 tahun itu, Selasa, 11 Februari 2020.

Sejak itu, untuk menyambung hidup sehari-hari, Juama mengandalkan belas kasihan tetangga sekitar. “Bagaimana mau bekerja, tiga anak saya difabel. Setiap hari harus merawat mereka,” tuturnya dengan diiringi air mata yang tak ia sadari, tiba-tiba menetes.

Dari pernikahannya dengan Madrai, Juama mempunyai 4 anak. Yakni Hosnanik, Syukkur, Suharia dan Juari. Dari mereka, hanya Hosnanik atau si sulung saja, yang kondisinya normal. Sementara 3 anaknya yang lain mengalami difabel dan stroke. Praktis, sehari-hari Juama hanya bisa menghabiskan waktu merawat ketiganya.

Hosnanik sendiri merantau ke Kalimantan. Di sana, Nanik sudah berkeluarga dan punya anak. Juama makin kebingungan, saat rumah yang ditinggalinya perlahan reot dan tak layak huni. Juama dan anaknya pun, pindah dengan menempati rumah anak sulungnya, yang ditinggal merantau.

“Tapi sebentar lagi, anaknya yang pertama mau pulang dan menetap di sini. Kami kasihan, dia harus tinggal di mana lagi. Sementara rumahnya sendiri sudah tidak layak huni,” ungkap Seninya

Sementara itu, Juama juga menyebut, sempat menerima bantuan berupa kambing dan sejumlah beras dari pihak desa. Namun, karena tidak ada yang mencari rumput untuk pakan ternak itu, akhirnya dijual. “Terpaksa kami jual, hasilnya kami gunakan untuk menyambung hidup setiap hari,” ujar Juama.

Sejumlah pihak pun, merasa terpanggil untuk membantu kondisi Juama dan tiga putranya yang difabel. Salah satunya, dari pabrik pengolahan Oli bekas, PT. Berdikari Jaya Bersama (BJB). Menggunakan dana Coorporate Social Responsibility (CSR), pihak perusahaan bersama sejumlah jurnalis Probolinggo, menyalurkan sejumlah bantuan untuk Juama.

“Semoga ini bermanfaat, mampu meringankan sedikit beban saudara kita ini. Karena tidak perlu kaya untuk membantu sesama. Kami berusaha hadir untuk meringankan penderitaannya. Walaupun jumlahnya tidak seberapa,” kata perwakilan awak media, Hisbullah Huda.

Ironis, ditengah gencarnya pembangunan di semua sektor, masih ada masyarakat yang kurang beruntung seperti Juama. Lokasi tempat tinggalnya pun, relatif dekat dengan pusat kota. Dari Kota Probolinggo, hanya dibutuhkan waktu selama 15 menit, untuk menjangkaunya.

Janda anak tiga dengan kondisi difabel inipun hanya bisa berharap, ada bantuan para dermawan untuknya. (lai/saw)