Bincang-bincang Corona dengan Mahasiswa Pasuruan saat di Cina

1294

Laporan : Maya Rahma 

VIRUS corona yang merebak di Wuhan, Cina, jadi pukulan bagi berbagai pihak. Tak terkecuali mahasiswa asal Pasuruan yang berkuliah di Cina.

Wartabromo berkesempatan untuk mendengarkan cerita mahasiswa Pasuruan yang berkuliah di Cina. Fahris Haria, warga Gempol ini sedang menempuh kuliah di Nanjing Tech University, Cina.

WartaBromo : Assalamualaikum Fahris. Apa kabar ini?

Fahris : Alhamdulillah baik dan sehat.

WartaBromo : Sekarang lagi di Indonesia kah? Sudah pulang sejak kapan?

Fahris : Iya, saya di rumah sekarang di Gempol. Sudah pulang sejak 11 Januari lalu. Selesai ujian, saya langsung pulang ke Indonesia keesokan harinya.

WartaBromo : Cerita soal sebenarnya bagaimana keadaan di Cina saat awal-awal corona mulai merebak?

Fahris : Kami takut saat itu. Ya namanya tidak pernah ada kayak gini. Lalu tiba-tiba seperti itu. Apalagi yang dinyatakan sembuh masih sangat sedikit ketimbang yang sakit. Lalu saat itu kami diimbau untuk pulang saja. Ada edaran dari KBRI terkait hal ini. Lalu pemerintah Indonesia memfasilitasi kami jika ada kesulitan terkait paspor.
Semuanya tanggap atas segala kesulitan di sana. Banyak teman-teman yang paspornya bermasalah langsung diberi surat untuk perizinan. Alhamdulillah semua bisa selesai.

Baca Juga :   Pulang Kunker, Anggota Dewan Kota Probolinggo Positif Covid-19 hingga Komet Ini Melintas di Langit Pasuruan | Koran Online 21 Juli

WartaBromo : Ada rasa trauma tidak untuk kembali ke Cina melanjutkan studi?

Fahris : Kalau ketakutan pasti ada. Kemarin kami sempat melaksanakan fun sharing. Ada pak Iswahyudi juga. Di sana kumpul bersama orang tua dan semua mahasiswa Pasuruan yang kuliah di Cina. Namanya orang tua ya khawatir anaknya kenapa-kenapa. Tapi akhirnya kami bersemangat tetap harus melanjutkan studi sampai selesai. Bahkan ada teman saya yang mau selesai S1 mau lanjut ke S2.

WartaBromo : Fahris sendiri sekarang sudah semester berapa nih? Untuk perkuliahan ke depan bagaimana?

Fahris : Saya sekarang sudah semester 4. Saya ngambil program Diploma III. Nah kebetulan selama masa liburan, harusnya kan Februari sudah mulai masuk ya. Jadi kami sekarang kuliah online. Dosen kami melakukan live streaming. Ada jadwal presentasi juga, kuis dan pengumpulan tugas semua via online. Jadi kalau saya ada tugas nanti hasilnya saya video, foto dan kirim untuk submit tugasnya. Masuk kuliah efektif dari pengumuman kampus kira-kira Mei 2020.

Baca Juga :   Warga Kraton Kembalikan Puluhan Sak Beras ke Pak Kades hingga Bus Ludes Terbakar di Tol Pandaan – Malang | Koran Online 7 Maret

WartaBromo : Oh iya, dengar-dengar masih ada teman di Pasuruan yang terjebak di Cina ya? Kabarnya bagaimana?

Fahris : Ada 3 mahasiswa yang tidak bisa pulang ke Pasuruan. Ada yang tidak dapat tiket dan semua sudah dipersulit sekarang. Kami transit juga dibatasi kalau dari Cina. Tiket juga akhirnya sangat mahal.
Kemarin kami sempat telepon, ya sering komunikasi sama teman di Cina. Alhamdulillah semua sehat. Perlakuan pemerintah Cina juga sangat baik kepada kami mahasiswa Internasional. Kami adalah tamu, jadi mereka luar biasa dalam perlakuan. Kata teman-teman kadang dikirim bahan makanan, bahkan kadang sudah dimasakkan oleh pihak-pihak tersebut. Semua difasilitasi oleh mereka.

WartaBromo : Berarti terjamin ya semua di sana? Memang untuk dapat bahan makanan atau lainnya susah ya?

Baca Juga :   Ketua Dewan Kena Bogem Saat Kisruh Laga Persekap VS AFA Syailendra

Fahris : Ya lumayan. Terutama masker dan obat-obatan. Saya tergabung dengan Komunitas Pelajar Muslim Indonesia. Waktu awal-awal dulu, saat corona masih di Cina, saya dan teman-teman sempat mengirim masker dan obat-obatan. Karena di sana kan semua dibatasi. Masker dapat tapi hanya 3 lembar per orang per hari.

Sementara obat-obatan seperti balsem dan lain-lain itu juga sulit. Teman-teman membutuhkan itu. Makanya ketika saya tahu ada penjual masker dadakan, lalu barang benar-benar mahal, saya sakit hati. Di Cina ini diberi gratis, sebab banyak yang membutuhkan. Kami komunitas juga mengupayakan bantuan saat itu. Galang dana secara online. Ya mungkin tiap orang berbeda-beda ya.