Sawan, Mitos Atau Fakta?

522

Pasuruan (Wartabromo.com) – Bayi tiba-tiba rewel, atau nangis tanpa henti saat sore menjelang malam, biasanya dianggap mengalami sawan. Pasalnya, sebagian besar warga Indonesia masih percaya bahwa bayi sensitif terhadap makhluk astral.

Beberapa sumber menyebutkan, sawan merupakan kondisi dimana si kecil mengalami perubahan perilaku secara mendadak tanpa alasan yang jelas. Sawan dipercaya terjadi akibat ulah si ibu yang melanggar mitos yang berlaku.

Secara medis kondisi tersebut dapat dijelaskan. Sawan merupakan proses pelepasan aliran elektrik secara tidak normal di dalam otak dan berakibat terjadinya guncangan pada bayi.

Tingkat keparahan dari sawan beragam. Mulai dari hentakan beberapa otot di bagian tubuh hingga guncangan seluruh badan (grand mal seizure).

Lantas, apa yang menyebabkan anak sawan?

Sebagian besar, penyebab sawan adalah demam tinggi. Orang tua harus waspada apabila si kecil mengalami demam mencapai 41°C.

Segeralah melakukan penanganan dengan tepat ketika buah hati demam tinggi. Jika tidak, bayi dapat mengalami sawan, kejang dan mengigau. Itu lantaran belum sempurnanya kondisi otak bayi untuk bereaksi terhadap fluktuasi temperatur yang mendadak terjadi.

Jika sawan parah, si kecil mengalami gejala mirip epilepsi. Bisa jadi, si kecil menggeliat-geliat di lantai, bola matanya bergerak ke atas, mulutnya berbusa, lidahnya tergigit bahkan kehilangan kesadaran sejenak.

“Epilepsi sering dianggap sebagai kesurupan atau sawan, padahal bukan. Penyakit ini disebabkan oleh sinyal saraf yang kacau,” kata dr. Fitri Octaviana, SpS, Mpd.Ked, perwakilan Perhimpunan Penanggulangan Epilepsi Indonesia (PERPEI).

Jika buah hati mengalami sawan, ada beberapa pertolongan pertama yang dapat dilakukan ibu atau orang terdekatnya:

1. Baringkan anak dengan aman di lantai dalam posisi telungkup atau miring. Posisi ini diperlukan untuk mempermudah masuknya oksigen ke dalam tubuh;

2. Hindari pemberian minuman ataupun makanan selama anak sawan;

3. Usahakan agar tidak terlalu cemas saat bibir anak tidak berwarna biru dan anak masih bisa bernapas dengan normal.

4. Apabila bibir si kecil berubah menjadi biru atau sesak napas, segera berikan napas buatan dari mulut ke mulut setelah saluran udaranya dibersihkan;

5. Bereskan segala barang berbahaya yang tergeletak ketika anak masih menggeliat-geliat di lantai.

6.Jika panas anak tetap tinggi, bukalah bajunya dan gosok badannya menggunakan handuk dingin. Tujuannya untuk mengurangi temperatur meningkat secara tiba-tiba. Sebab, demam yang semakin parah, dapat mengakibatkan lebih banyak serangan tiba-tiba.

Namun, jika bolo warmo masih meragu dan bingung dengan kondisi si anak, bisa langsung memeriksakannya ke tenaga medis terdekat. (bel/may)