Belajar dari Rumah, Tak Melulu Mengerjakan Tugas

2555
Sebenarnya belajar di rumah ini metodenya seperti apa ya?

Oleh : Maya Rahma

“Kak, pinjam laptop ya. Aku ngerjakan tugas dari handphone nggak bisa. Ini ada kuis harus cepat,” kata seorang adik pagi ini.

Ya kira-kira sekitar jam 9.00 WIB. Saya yang sedang Work from Home tiba-tiba disapa adik. Mau tidak mau, laptop yang sehari-harinya saya gunakan kerja, harus rela dipinjam dulu.

Saya tidak akan curhat persoalan pinjam meminjam laptop ini. Namun soal tugas yang lagi-lagi datang, setiap hari.

Iseng, saya samperi adik. Dia yang “tahu diri” kakaknya sedang bekerja, minta ajari penggunaan laptop kepada kakaknya yang satu lagi. Yang saat itu sedang asyik rebahan karena libur kerja.

“Kamu nugas apa lagi? Kok nugas terus? Nggak pernah dikasih materi sama gurunya?” Tanyaku pada adik yang lagi rempong login email tapi nggak bisa-bisa.

Baca Juga :   Dewan Kabupaten Pasuruan Bentuk Pansus Penanganan Covid-19

“Ya gimana kak, orang dikasih tugas terus. Jarang dikasih materi. Biasanya ya gini, tugas, ngerangkum di buku kadang, terus kuis. Kakak ngapain tanya-tanya, orang tahu sendiri kalau aku nugas terus.” Jawabnya sambil sewot dengan bibir maju 5 sentimeter.

Dari percakapan ini saya kemudian terenyuh. Sebenarnya belajar di rumah ini metodenya seperti apa ya?
Memang, adik saya yang kelas 1 SMP setiap hari selalu menyambangi ruang Working from Home saya.

Ada saja yang ditanya. Mulai dari jawab beberapa soal yang tak dia pahami, minta ajari operasional word, ubah file .doc jadi pdf, sampai minta videokan dia lagi senam.

Semuanya tugas. Dia tak sekalipun menanyakan bacaan yang tak Ia pahami. Ternyata karena memang jarang diberi materi oleh sang guru.

Selain adik, ibu juga sempat dicurhati tetangga saat sedang berbelanja kebutuhan pokok. Anaknya setiap hari bikin tugas yang butuh pemahaman agak ekstra karena memanfaatkan teknologi untuk mengirim. Alhasil, ibunya ikut rempong, dan menunda kegiatan di dapur, bersih-bersih dan lain-lain untuk menemani sang anak.

Baca Juga :   Dibekali Modul, Pelajar Kota Pasuruan Belajar di Rumah secara Daring selama 2 Pekan

Sore harinya, ada ibu-ibu yang tanya ke seorang guru SD. Kebetulan guru SD itu kawan saya. Ibu ini punya anak masih TK.

Katanya, sang anak diminta bikin kliping oleh guru TK-nya. Kliping kegiatan sehari-hari dan diprint. Sang ibu sudah bersungut-sungut karena jelas yang mengerjakan adalah Ibunda. Pun Ia juga tak memiliki printer. Mau tidak mau harus keluar rumah juga kan?

Ya kali anak TK sudah bisa bikin kliping.

Rekan saya menjawab, ternyata kewajiban bikin kliping ini tugas dari Dinas untuk guru. Melaporkan kegiatan sehari-hari sang anak didik. Bentuk skrinsut atau macam-macam lah. Yang penting laporan.

Dari cerita yang panjang ini, saya berkesimpulan, sepertinya beberapa guru memang harus mengevaluasi metode pembelajarannya.

Baca Juga :   Masjid Agung Ar-Raudlah Tak Gelar Salat Idul Fitri

Sebab, aturan dari Kementerian Pendidikan pun menyebut jika pembelajaran dilakukan secara online.

“Belajar dari rumah melalui pembelajaran daring atau jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.” SE Kemendikbud No 4 Tahun 2020.

Pembelajaran ini bisa macam-macam bentuknya. Ada pemberian materi, tugas dan lain sebagainya.

Harapannya, pembelajaran tersebut seimbang sesuai dengan kemampuan anak didik. Ya sesuai juga dengan anjuran Kemendikbud.

“Aktivitas dan tugas pembelajaran belajar dari rumah dapat bervariasi antar siswa, sesuai minat dan kondisi masing-masing termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah.”

Saya yakin, tidak semua guru membebankan tugas bejibun ke muridnya. Namun saya juga yakin, ada guru yang modelnya hanya memberikan tugas tanpa materi.