Bulan di Pelabuhan Stockholm

1266

Oleh: Alif Febriyantoro

DI SEBUAH taman di dekat pelabuhan Stockholm yang pendiam, akan selalu ada wanita-wanita yang menangis ketika memandang bulan. Bulan yang warnanya keperak-perakan, yang cahayanya jatuh dan membias di lautan, sehingga laut itu akan berkilau seperti hamparan berlian. Wanita-wanita itu akan sabar menunggu sampai air matanya menetes dengan sendirinya. Air mata yang jatuh satu demi satu tepat ketika kelopak matanya berkedip, yang kemudian membasahi sebentuk pipi yang penuh dengan bedak, yang selanjutnya akan mengalir ke bibirnya yang merah dan setengah terbuka. Semua wanita di taman itu tak akan pernah tahu kenapa mereka begitu mudah menangis hanya karena memandang bulan.
***
“Datanglah ke sebuah taman di dekat Pelabuhan Stockholm, Anda akan sembuh dari semua peristiwa yang telah menyakiti Anda.”

Kalimat itulah yang diucapkannya kepadaku seminggu yang lalu, ketika ia menemukanku sedang merenung sendirian di sebuah meja bar. Tentu saja aku belum mengenalnya. Wanita itu tiba-tiba saja datang kemudian duduk di hadapanku. Aroma parfumnya dan aroma samponya menyeruak. Tetapi hidungku lebih fokus pada aroma samponya yang segar. Rambutnya pirang sepeti senja. Terurai sampai ke bahu. Wanita itu mengenakan kemeja putih dengan syal merah muda yang melingkar di leher. Aku menatap sepasang matanya, namun ia membalas dengan tatapan yang lebih tajam.

Baca Juga :   Pudarnya Perajin Perak di Gajahbendo, Kabupaten Pasuruan

“Maaf, dari mana Nona yakin bahwa saya sedang bersedih?” Pertanyaanku terdengar kaku dan terlihat kacau. “Yang bilang Anda sedang bersedih siapa? Saya hanya menawarkan sebuah tempat yang baik untuk bersedih.”

Nah. Jelas wanita selalu benar.
“Tapi, tawaran Anda itu seperti menyimpulkan bahwa orang-orang yang datang ke tempat itu adalah orang-orang yang sedang bersedih.”
“Benar sekali.”
“Itu berarti sejak awal Anda sudah menyimpulkan bahwa saya sedang bersedih!”
“Apa salahnya menyimpulkan? Jika Anda memang benar-benar bersedih, saya sarankan datang saja ke tempat itu.”
Nah. Jelas wanita tidak pernah bersalah.
“Saya harus pulang. Jika kita bertemu kembali, jangan panggil saya Nona, panggil saja Sofia.”
Wanita itu bangkit dari tempat duduknya. Kemudian lenyap ditelan ambang pintu dan, malam.
Jika kita bertemu kembali….

Baca Juga :   Belatung Ayam dan Meja Makan Bupati Hindia-Belanda

Entahlah kenapa pada saat itu kalimatnya membekas di kepalaku. Seakan-akan dalam ucapannya itu, ia telah menyimpulkan bahwa aku pasti akan datang ke sebuah taman yang katanya adalah tempat yang baik untuk bersedih. Aku akan datang dengan membawa segenggam kesedihan. Lantas aku akan melihatnya duduk pada sebuah bangku taman dengan wajah yang paling sendu. Pada titik itu, aku akan duduk di sampingnya. Dan aku akan berkata kepadanya, akhirnya kita bertemu kembali, Sofia. Sungguh nama yang indah.
Tetapi ramalanku itu cukup buruk. Beberapa saat kemudian, wanita itu muncul kembali di hadapanku, masih dengan aroma samponya yang segar.
“Sudikah Anda temani saya ke taman itu malam ini?”
***
Ternyata Sofia adalah wanita yang menyukai malam. Ia hanya bisa ditemui saat malam. Sudah seminggu ini aku selalu menemaninya untuk memandang bulan. Setiap malam aku selalu menyempatkan diri duduk di sampingnya, hanya untuk melihat air matanya yang mengalir tanpa alasan.
“Apakah kau tak ingin menanyakan kenapa aku menangis?”
Pertanyaan itu, sungguh sentimentil.
“Bukankah semua wanita di sini menangis tanpa alasan?”
“Kau bodoh jika punya pemikiran seperti itu!”
“Kau tahu, aku pura-pura bodoh. Cerita saja.”
Sofia hanya mengembuskan napas. Mengalihkan pandangannya ke arah kapal pesiar yang baru saja menjauh dari pelabuhan.
“Kau percaya, keberangkatan adalah kepulangan bagi yang lain?”
Lewat matanya yang basah, aku berusaha memahami. “Tapi kapal itu pasti akan kembali ke pelabuhan ini.”
“Sebelum kembali, kapal itu akan bersandar di pelabuhan yang lain, bukan?”
“O… itu pasti.”
“Kau mengerti maksudku?”
Tentu saja aku mengerti. Sebuah analogi sederhana dari peristiwa ditinggalkan. “Jadi, siapa yang meninggalkanmu?”
“Dia suamiku. Maaf, mantan suami,” katanya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengambil selembar sapu tangan. “Sebenarnya dia tidak pergi. Dia kembali, bersama wanita lain yang menggendong bayi.”