Sisihkan Rezeki, Karyawan Bank Jatim Pasuruan Peduli Tukang Becak

1037
BERBAGI: Pimpinan Bank Jatim Pasuruan, Deddy Ajie Wijaya (enpat dari kiri) menyalurkan bantuan pada tukang becak diikuti oleh para karyawan Bank Jatim lainnya.

Pasuruan (WartaBromo.com) –  Keramahan dalam melayani nasabah menjadi komitmen para karyawan Bank Jatim Pasuruan. Kelembutan hati 160 ditunjukkan karyawan Bank Jatim Pasuruan dengan rasa empati terhadap tukang becak di tengah pandemi Covid-19 ini.

Sejak Senin sore (18/5) kemarin, para tukang becak sudah memenuhi halaman Bank Jatim Pasuruan. Mereka biasanya mangkal di seputaran alun-alun, terminal wisata dan wilayah kota lainnya. Hanya saja, para tukang becak ini tidak hanya penduduk kota. Banyak juga dari mereka adalah warga Kabupaten Pasuruan. Mulai Gondangwetan, Pohjentrek, Rejoso dan Kraton.

MELAYANI: Deddy Ajie sempat mengayuh becak yang berpenumpang abang becak dengan membawa sembako. Ajie seakan membawa filosofi bahwa pemimpin itu melayani bukan dilayani.

Pimpinan Cabang Bank Jatim, Deddy Ajie Wijaya mengatakan, aksi bakti sosial yang dilakukan karyawannya ini berlangsung secara spontan. Pihaknya hanya mengimbau kepada karyawan yang mau menyisihkan rezekinya untuk ikut peduli pada sesama.

Namun, di luar dugaan, ajakan positif dari sang pimpinan ini direspon para karyawan dengan cepat dan lugas. Bahkan, Ajie sampai terkejut, karena uang hasil penyisihan karyawan ini cepat terkumpul. “Saya sendiri baru selesai acara dengan Pak Bupati di Warungdowo. Terus karyawan saya mengontak, kalau bantuan sosial dari para karyawan sudah siap untuk didistribusikan. Saya salut. Saya acungi jempol atas kekompakan para karyawan Bank Jatim,” ujar Ajie.

DIBERIKAN SENDIRI: Para karyawan Bank Jatim Pasuruan memberikan sendiri bantuan sembako hasil penyisihan rejeki mereka.

Uang yang terkumpul itu kemudian dikonversi menjadi sembako. Ada beras, minyak, gula, kopi, teh, dan mi instan. Selain itu, setiap tukang becak juga mendapatkan uang tunai, kaos, masker Bank Jatim dan juga bantalan becaknya. Dari 160 yang ditargetkan, antusiasme tukang becak membengkak menjadi 200 orang.

“Karena ini murni uang penyisihan mereka, maka saya kasih kesempatan satu persatu karyawan langsung memberikannya kepada tukang becak. Dan mereka ikut senang bisa berbagi,” tegasnya.

Saat memberikan bantuan, Deddy Ajie juga mengajak dialog para tukang becak. Di antara mereka banyak yang mengeluhkan soal penurunan pendapatan (income). Apalagi dengan munculnya pembatasan sosial, membuat penghasilan mereka menurun drastis. “Sebelum ada covid ini, saya bisa narik sehari dapat Rp 75.000 sampai Rp 100.000. Tapi sekarang dapat Rp 30.000 saja angel setengah mati (sulit sekali),” keluh Asmad, Warga Sadengrejo Kecamatan Rejoso.

Karena penurunan income itulah, Asmad dan para tukang becak lainnya mengaku harus nempur. Kata nempur kerap dimaknai masyarakat dengan utang beras. Maka bantuan dari pemerintah dan pihak-pihak lain sedikit meringankan beban mereka. Meski sifat bantuan hanya sementara – asal mobilitas dan distribusinya jelas, pasti membantu.  “Maka dari situlah, jiwa korsa kami muncul. Ada kesadaran untuk berbagi. Pembatasan sosial itu bukan berarti mengurangi sensitivitas sosial,” tuturnya.

BANTALAN BECAK: Selain sembako, para tukang becak juga menerima bantalan becak bertuliskan, Jatim Multiguna Vaganza.

Para tukang becak juga merasa senang, karena bantuan yang mereka terima salah satunya adalah bantalan. Apalagi tempat bersandar penumpang ini rata-rata juga sudah usang dan rusak. Bantalan Bank Jatim bertuliskan “Jatim Multiguna Vaganza. Berhadiah Langsung!!! Program Multiguna setara 0,5%.

Syaratnya; kredit ini berlaku untuk debitur baru maupun kompensasi. Gaji payroll Bank Jatim Pasuruan. Realisasi netto minimal Rp 75.000.000. “Jadi setiap orang yang mengambil kredit multiguna vaganza ini, langsung mengambil kupon undian dan mendapat hadiah. Kami sediakan mulai sepeda motor, kulkas, sepeda gunung, kipas angin, magic com dan banyak hadiah lainnya,” terang Ajie. (day/*)