‘Terserah’, Ungkapan Pasrah atau Geram?

1964

Pasuruan (Wartabromo.com) – Jumlah kasus Covid-19 di Indonesia semakin merangkak naik. Ketidakpastian terkait penanganan wabah tersebut menimbulkan berbagai reaksi.

‘Indonesia Terserah’ sedang ramai diperbincangkan. Ungkapan tersebut seakan mewakili perasaan frustasi.

“Ini adalah ungkapan geram, frustasi dan kekesalan terhadap perilaku anggota masyarakat maupun kebijakan, yang dinilai tidak kooperatif dalam turut serta bahu membahu menghentikan pandemi covid-19,” ujar psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla, dinukil dari detik.

Menurutnya, ungkapan geram dan kekesalan ini tampak diungkapkan dalam bentuk ungkapan sinis atau sarkasme. Dimana sarkasme merupakan suatu sindiran pedas terhadap sesuatu.

Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ‘terserah’ memiliki arti masa bodoh. Veronica mengungkapkan, apabila rasa geram tanpa kepastian yang jelas, dapat berkembang menjadi putus asa. Bahkan, yang lebih buruk, akan menggiring pada sikap tidak peduli atas terjadi hingga pada perilaku fatalitik.

Namun, dalam kondisi lain, kata-kata seperti ‘terserah’ justru mewakili sikap yang dinamakan pasif agresif. Seseorang yang berperilaku pasif agresif biasanya mengekspresikan perasaan negatif lewat perilaku. Mereka tidak mengungkapkannya secara langsung lewat kata-kata.

Misalnya, dalam suatu diskusi, seseorang dengan perilaku pasif agresif merasa tidak setuju. Mereka mungkin tak akan membantah. Tapi, tindakan menarik diri dari diskusi atau mewakilinya dengan ungkapan ‘terserah’ dipilihnya. Melalui tindakan tersebut, mereka diam-diam tidak mau mendukung, bahkan yang lebih buruk, mereka akan membicarakan di belakang.

Bagi mereka, situasi akan berubah lebih buruk apabila orang lain mengetahui perasaan negatifnya. Maka dari itu, mereka lebih memilih mengungkapkannya diam-diam lewat sikapnya dibanding kata-kata. Mungkin bagi mereka, itu adalah jalan terbaik untuk menghindari perselisihan. (bel/may)