Petolekoran, Belanja di Tengah Wabah Disayangkan

763

Probolinggo (wartabromo.com) – Bupati Probolinggo sayangkan kegiatan belanja warga Pulau Gili Ketapang di tengah pandemi corona. Pasalnya, meninggalkan tradisi belanja di malam 27 Ramadan itu bukanlah hal yang tabu.

Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari menyadari ada PR (pekerjaan rumah) yang harus segera diselesaikan terkait aktivitas warga Gili Ketapang. Langkah awal setelah mendapati laporan petolekoran berlangsung, pihaknya langsung melakukan kordinasi dengan kepala desa maupun tokoh agama di sana.

“Tradisi itu yang terjadi sekian puluh tahun itu, jika dibandingkan dengan pelaksanaan agama, bukanlah hal yang tabu,” kata Tantri menyikapi tradisi warganya.

Selama masa pandemi corona, Desa Gili Ketapang mempunyai keunggulan dibandingkan desa lain, dalam hal isolasi mandiri atau karantina wilayah. Sebab, jika ingin ke desa pulau itu, yang bisa digunakan hanya kapal atau perahu.

Sehingga kondisi itu cukup memberi dukungan, bila saja terdapat pihak yang ingin menjalani isolasi. Terisolir dengan sendirinya. Berbeda dengan desa lain yang harus membuat cek poin.

“Sebetulnya dengan kondisi Gili Ketapang yang tersendiri merupakan sebuah keuntungan. Karena masyarakat disana secara otomatis bisa mengisolir dirinya sendiri. Jauh lebih mudah mengontrol pergerakan warga dibanding desa di daratan,” ujar Bupati Probolinggo 2 perideo itu.

Namun, keuntungan itu menjadi mubazir ketika banyak warga berbondong-bondong ke luar daerah. Berbelanja ke Kota Probolinggo untuk kebutuhan lebaran demi melestarikan tradisi Petolekoran.

Dikhawatirkan saat di Kota Probolinggo dan berjumpa dengan banyak orang, warga Gili Ketapang terinfeksi virus corona.

“Pergerakan orang di Gili Ketapang ke kota berpotensi menjadi penyebab penularan. Tapi mudah-mudahan, daerah tersebut tetap zero. Harapannya masyarakat tetap jaga jarak dan memakai masker,” tandas ibu 3 anak itu. (saw/ono)