Hadapi New Normal, Pemkab Probolinggo Launching Desa Tangguh Covid-19

1021

Gading (wartabromo.com) – Persiapan untuk menerapkan tatanan hidup normal baru (new normal) dimatangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. Awal langkah dengan meresmikan (launching) Desa Tangguh Covid-19 di Water Spot Kampoeng Hati Desa Gading Wetan, Kecamatan Gading, pada Kamis, 28 Mei 2020. Instrumen yang dipakai adalah kentongan.

Launching ditandai dengan pukulan kentongan oleh Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo Drs. HA. Timbul Prihanjoko. Ia didampingi Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan, Dandim 0820 Probolinggo Letkol Inf. Imam Wibowo. Serta diikuti oleh para kepala OPD (organisasi perangkat daerah), camat, serta perwakilan kepala desa (Kades) di Kabupaten Probolinggo.

Pada tahap awal ini, 3 desa diplot sebagai Desa Tangguh. Yakni Desa Gading Wetan, Kecamatan Gading; Desa Bhinor, Kecamatan Paiton; dan Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan. Tiga desa itu, mendapat bantuan APD (Alat Pelindung Diri).

Wabup Timbul Prihanjoko menyebut konsep Desa Tangguh, sebenarnya sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat di Kabupaten Probolinggo. Hanya saja bahasanya yang berbeda. Namun, seakan hilang karena adanya pergeseran budaya. Seperti pemakaian kentongan sebagai penanda terjadi bencana atau kedatangan orang baru.

Desa tangguh ini, mengajak masyarakat untuk bersama-sama peduli terhadap permasalahan yang ada di desanya. Memiliki kepedulian terhadap sesama melalui budaya gotong royong. Satu budaya yang menjadi jati diri Bangsa Indonesia. Dengan menjadi Desa Tangguh, masyarakat akan mampu menghadapi problematika di desa.

“Kalau masyarakat di desa, hal semacam ini tidak akan kaget. Cuma karena adanya pergeseran budaya dari luar dengan budaya kita, maka kebiasaan tersebut sepertinya hilang. Melalui pandemi Covid-19 ini, kita diingatkan kembali oleh Allah SWT agar memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan,” ujarnya.

Wabup Timbul mengatakan pandemi corona tidak dapat dipastikan kapan akan berakhir. Membutuhkan energi yang luar biasa untuk menghadapinya. Sehingga perlu berdamai dengan kondisi yang ada, namun tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Karena kalau dibiarkan akan merusak sendi-sendi kehidupan dan akan runtuh negara. Kita tidak boleh terlena dan harus segera keluar dari kondisi ini. Kehidupan harus terus berlangsung, tetapi semua harus ditata dengan baik. Nanti akan dicoba suasana baru dan normal kembali. Sebab semua sektor terdampak oleh mewabahnya Covid-19,” lanjut Wabup Timbul.

“Saya yakin masyarakat memiliki SDM yang luar biasa. Mari kembali ke kehidupan normal. Harapannya ke depan semua desa di Kabupaten Probolinggo mampu menjadi desa tangguh yang mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri,” tandas politisi PDIP itu.

Di Desa Gading Wetan, kentongan sudah lama dipergunakan sebagai penanda. Bunyinya efektif bagi warga untuk memberitahu sesuatu atau hal apapun. Termasuk orang, pendatang, atau pemudik yang masuk desa atau kampung. Sehingga warga asing yang tidak punya kepentingan, akan sadar dan tidak masuk ke desa.

Cara ini sangat efektif, terbukti desa ini zero dari warga positif terinfeksi Covid-19. “Bila ada pendatang atau orang asing masuk, warga membunyikan kentongan, tanpa diperintah warga lainnya melakukan hal serupa. Sehingga semua tahu, jika ada orang asing masuk ke desa. Dengan kentongan ini, ternyata menjadi cara efektif membendung penularan corona,” tutur Supriyono, selaku Kepala Desa Gading Wetan.

Warisan nenek moyang itu, adalah cara tradisional dalam menginformasikan kejadian di desa. Semisal ketika terjadi bencana alam, perkumpulan warga, atau juga jika ada pagebluk atau wabah penyakit. Tujuannya agar warga tidak keluar rumah dan waspada terhadap wabah.

“Ternyata efektif dilakukan saat pandemi corona, alhamdulillah sampai hari ini, tidak satupun warga Desa Gading Wetan terpapar Covid-19. Dan kami mendapatkan apresiasi oleh Forkopimda Probolinggo dan Muspika Kecamatan Gading dengan dijadikan Desa Tangguh,” tandas Supriyono. (saw/**)