Haul Kiai Sepuh Genggong, Digelar Terbatas hingga Terapkan Protap Kesehatan Ketat

902

Pajarakan (wartabromo.com) – Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Kabupaten Probolinggo menggelar haul ke-67 KH. Moh. Hasan pada Rabu, 3 Juni 2020. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, haul kali ini digelar terbatas.

Haul digelar khusus bagi santri asal Kota/Kabupaten Probolinggo yang telah kembali ke Pesantren Genggong pada Senin-Selasa (01-02/06/2020).

Terkait pembatasan jemaah itu termaktub dalam maklumat pengasuh yang disebarluaskan Kominfo Pesantren kepada masyarakat.

Sementara, masyarakat umum yang boleh mengikuti haul sebatas bagi warga sekitar pesantren saja. Namun, tingginya antusiasme masyarakat menghadiri haul ulama yang dikenal sebagai Kiai Sepuh Genggong itu, tetap tak terbendung.

“Kami sudah berikhtiar membatasi yang hadir, tapi rupanya keinginan masyarakat sangat besar menghadiri haul ini. Sebagai antisipasi kami lakukan protokol kesehatan secara ketat,” kata pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah.

Protokol kesehatan ketat diterapkan, mulai di depan pintu gerbang utama pesantren, selain pembagian masker gratis. Ada juga tempat cuci tangan dan pemeriksaan suhu tubuh menggunakan thermo gun. Bahkan, jemaah haul harus melewati bilik disinfektan.

Sedianya, maklumat larangan hadir ke lokasi, disiasati panitia dengan menyiapkan tayangan langsung haul atau live streaming via website dan akun media sosial pesantren serta televisi jaringan Nahdliyin.
Meski demikian masyarakat tetap antusias hadir dalam haul yang digelar setiap 11 Syawal itu.

“Upaya maksimal sesuai kemampuan pesantren untuk mencegah penyebaran Covid-19, telah dilakukan. Baik imbauan melalui maklumat, media sosial, dan jaringan alumni,” ujar mantan Ketua PWNU Jatim itu.

Pada haul ke-67 Kiai Sepuh Genggong, hadir sebagai penceramah Gus Ali Mas Masyhuri, Pengasuh Ponpes Modern Bumi Shalawat, Tulangan, Sidoarjo.

“Tauladan yang perlu diikuti dari Kiai Sepuh Genggong, beliau sangat menghormati tamu-tamunya tanpa membedakan derajat dan status sosialnya,” petikan ceramah Gus Ali. (saw/ono)