Covid, Dicari dan Dimaki

4427
“Bisa dibilang virus corona menyerang berbagai bidang. Selain kesehatan, Ia juga menguasai pemberitaan. Dicari-cari orang, pun dimaki disaat bersamaan.”

Oleh : Maya Rahma

SUDAH lebih dari 3 bulan lamanya pemberitaan soal virus corona menghiasi media massa. Hampir semua media baik lokal, nasional, maupun internasional, tak henti-hentinya mengupdate berita ini.

Bisa dibilang virus corona menyerang berbagai bidang. Selain kesehatan, Ia juga menguasai pemberitaan. Berkali-kali jadi trending topic media massa. Pun tidak tahu kapan akan berakhir.

Nah, gara-gara si Corona juga, WartaBromo “diserang” netijen. Baik di Facebook, Instagram, maupun secara khusus chat kami. Bukan chat mesra tentunya, tapi chat yang sepertinya ngamuk karena WartaBromo selalu memberitakan virus corona.

Kira-kira kalimatnya seperti ini. “Warmo iki corona tok bendino. Gak bosen ta? Kene wis bosen, ojo diberitano terus. Nggarakne panik. Koyok ndak ono berita liyo ae!”

Begitu kira-kira kalimatnya. Itu yang agak kalem. Ada juga yang sudah masuk ke ngamuk-ngamuk parah dengan kalimat kasarnya. Tapi kami tidak masalah. No problem.

Namun setelah sekian komentar, pesan yang masuk selama beberapa bulan ini, ada satu hal yang berhasil membuat saya tergelitik menulis pesan ini. Salah seorang warganet bilang ke kami via Instagram. Katanya, ada 2 orang meninggal karena corona, tapi 200 orang meninggal karena info corona yang bikin panik. Dan itu juga karena pemberitaan yang dilakukan WartaBromo secara terus menerus. Begitu katanya.

Deg…

Sekolo itu, saya khususnya langsung berniat bikin tulisan. Saya tahu yang diomongkan oleh warganet jelas sekali tak berdasar. Tak ada data valid yang menunjukkan kebenaran hal tersebut.

Tapi saya membayangkan, jika warganet ini bercerita ke orang-orang sekitarnya, baik secara langsung atau via media sosial tentang hal sama, bisa jadi hal berat. Ia menyebarkan disinformasi atau hoax, bahkan.

Akibatnya apa? Ya jelas orang yang tidak mengerti betapa virus ini bikin ngeri, jadi malah tak hati-hati. Sementara kasus ini masih terus naik grafiknya. Tidak usah skala nasional, di Kabupaten Pasuruan sendiri sudah 191 kasus dengan kesembuhan yang belum separonya.

Bahkan beberapa laporan dari warganet, masih banyak yang tak mengenakan masker, tak jaga jarak, abai dengan kesehatan, meski kasus terus meningkat.

See? Apa jadinya kalau satu warganet itu menyebarkan opini tak berdasarnya ke orang-orang? Dan orang tersebut menelan mentah-mentah apa yang disugestikan. Bahwa banyak yang meninggal bukan karena kasusnya, namun karena panik membaca berita corona.

Padahal BoloWarmo, tak sedikit pula warganet yang berterimakasih kepada media karena melakukan update informasi terkait hal ini. Bahkan, secara khusus mereka request info tersebut. Meminta wartabromo terus memberikan informasi karena ini jadi kebutuhan mereka. Apalagi banyak sekali hoax beredar. Beberapa warganet ini meminta bantuan WartaBromo untuk mengklarifikasi hoax yang ada.

Saya juga yakin, Anda Anda yang muak dengan info corona, satu dua orang pasti juga mau tidak mau turut menyimak berita ini. Ya gimana, corona secara tidak langsung mempengaruhi kehidupan kita. Membuat aktivitas terhambat. Mau tidak mau ya harus nyimak kan?

Bedanya, Anda yang mencaci info corona ini mengelak dan mencari kambing hitam. Bilang media kehabisan berita dan topik. Padahal Anda juga butuh, dan kalau pun tak butuh, Anda bisa mencari informasi lain.

Banyak kok pemberitaan yang bukan soal corona saja. Ada kasus Novel Baswedan di tingkat nasional, Pilwali Kota Pasuruan di lokalan, atau informasi soal gaya hidup, film terkini. Tinggal pintar-pintarnya kita mencari informasi. Toh semua sudah canggih. Ketik butuh info apa saja, muncul deh yang kita mau. Ya gak?

So, stop memerintah media berhenti memberitakan virus corona. Apalagi sembari menyebarkan hoax yang tak perlu. Jangan egois kawan. Sebab, di luar sana juga masih banyak yang membutuhkan informasi Covid terkini. Untuk lebih berhati-hati atau bahkan menunjang pekerjaannya selama ini.