Menjumputi Sampah di Kali Tambak Lekok

1411
“Bukan sempat lagi, kalau gatal-gatal, sudah kebiasaan lah warga sini,”

Laporan Akhmad Romadoni

BAU tak sedap tercium menyengat saat melewati jalan di pinggir kali Tambak Lekok, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Kalau boleh menyebut, permukiman di sekitar sungai itu sepertinya bagian dari muara.

Memang, di sisi sepanjang jalan juga terdapat kali, yang pastinya berfungsi menampung aliran air dari hulu menuju ke laut.

Hanya saja, sampah terlihat menutup permukaan kali, hingga merusak kenyamanan jika melintas di sekitar permukiman padat penduduk itu. Tentu saja bau juga menjadi hal yang mengganggu.

Titik yang dijumpai kali ini tepat di sebelah tambak budidaya udang. Sampah kemasan makanan, plastik, styrofoam, bantal, guling, hingga kotoran sapi, terlihat jelas mengambang di atas kali yang seakan tak mengalir tersebut.

Kebetulan salah seorang warga melintas, menyeberangi jembatan yang berada di Dusun Krajan, Desa Tambak Lekok tersebut. WartaBromo mencoba mendapatkan keterangan.
M. Suyitno (25), pemuda itu menyebutkan nama.

Ia pun mengakui, jika kondisi kali seperti ini sudah biasa ia lihat. Dulu, keadaan kali di sini sempat menjadi primadona sebagian anak-anak hingga kaum dewasa. Memancing hingga mandi di sungai, diungkapkannya merupakan hal lumrah yang dilakukan warga.

“Mancing, mandi adalah hal sangat menyenangkan di sini, aktivitas warga sering terjadi di kali ini,” terang Suyitno, Jumat (19/06/2020) siang.

Pemuda yang biasa dipanggil Suyit ini mengungkapkan, kebiasaan mancing dan bermain di sungai, seingatnya dinikmati ketika ia masih duduk di kelas 2 SD.

Tapi, belasan tahun berlalu, kali sudah berbeda dari yang dulu. Justru yang terlihat saat ini hanya pemandangan kotor selain juga muncul bau.

Kondisi menyedihkan juga dirasakan saat musim hujan, sampah yang datang dari sejumlah desa di Kecamatan Lekok bertumpuk di kali Tambak Lekok. Masalah besarnya adalah, sampah seakan tersangkut, tak hanyut ke laut.

Kesehatan masyarakat di sekitar kali juga menjadi perhatian. Dengan kondisi seperti itu, kampung Tambak Lekok diakui menjadi sarang penyakit, terutama sakit kulit.

“Bukan sempat lagi kalau gatal-gatal, sudah kebiasaan lah warga sini,” kata Suyit, dengan tersenyum kecut melihat keadaan kali.

Sedianya, ikhtiar sudah dilakukan agar kali Tambak Lekok bersih. Tak kurang pemerintah desa hingga kecamatan juga mencoba menyelesaikannya.

Bahkan, Suyit bersama pemuda desa lain di Kecamatan Lekok membangun diri, menyatukan langkah bersama bergerak, setidaknya melakukan kampanye untuk menjaga kebersihan dan tidak membuang sampah sembarangan.

Diungkapkan Suyit, perkara sampah sebenarnya selain kesadaran warga, yang kian perburuk keadaan adalah ketiadaan tempat pembuangan sampah.

“Di sini kan tak punya tempat pembuangan sampah meski bersifat sementara. Kita juga sempat ngumpul sama-sama bergerak bersama pemuda lainnya. Tapi ya itu tadi, ndak ada hasil,” paparnya.

Warga pun, dikatakan hanya bisa pasrah dan harus membiasakan diri beraktivitas dengan ancaman sampah.

Masalah kesehatan lingkungan ini tak urung juga jadi perhatian Syaiful Anam, Kepala Puskesmas Lekok. Ia menegaskan, kondisi seperti yang dijumpai di kali Tambak Lekok dipastikan berbahaya, setidaknya bisa menyebabkan penyakit seperti gatal-gatal dan diare.

“Dalam kondisi seperti ini penyakit yang sering menyerang adalah gatal-gatal dan diare,” terangnya, ketika ditemui wartabromo.com di kantornya.

Namun bila ditinjau dari catatan Puskesmas Lekok, justru penyakit degeneratif seperti hipertensi dan diabet paling banyak diderita warga.

Ia pun tak mampu memberi dasar keterangan, penyakit kulit di antaranya, malah tak banyak masuk dalam laporan. Apakah, selama ini warga membiarkan saja sakit kulit yang diderita, atau kah berobat ke klinik maupun tempat medis selain Puskesmas.

Di luar catatan laporan, menurutnya masalah sampah harus mendapat perhatian dari seluruh elemen masyarakat. Kesadaran masyarakat juga harus terus didorong, bila ingin mengurangi wabah penyakit di sekitar masyarakat.

“Salah satunya ya kesadaran masyarakat sendiri, dalam membuang sampah,” ucap Syaiful Anam.

Sekadar informasi, di wilayah Desa Tambak Lekok, data penyakit kulit yang diakibatkan oleh kutu hewan (Scabies) berada pada angka 56 per Januari hingga Juni 2020.

Sedangkan pada setengah tahun ini kasus Dermatitis (peradangan pada kulit yang menyebabkan kulit memerah dan gatal bisa menyebabkan kulit sampai melepuh, mengeluarkan cairan, dan mengelupas) penderitanya mencapai 426 orang.  ke halaman 2