Melihat Mural Cantik Sang Napi

1385

“Gatel rasane nek gak gambar. Wes biasa gambar trus meneng, bedo,”

Laporan : Akhmad Romadoni

LEMBAGA Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Pasuruan kini memiliki tampilan berbeda.

Jika ingin memasuki Lapas untuk menjenguk kerabat, mural 3 ekor kuda dan pemandangan hutan sepintas cukup menyegarkan mata. Belum lagi, taman dengan ragam tanaman terasa kian menyejukkan. “Eh, bagus ya,” celetuk seorang pengunjung.

Tentu saja, tebersit tanya siapa gerangan yang melukisnya.
Ternyata sang seniman itu adalah Edi Siswanto, narapidana penghuni Lapas Pasuruan.

Edi Tato, begitu napi pria ini biasa disapa. Ia terjerat narkoba sampai kena hukuman dengan putusan 5 tahun 6 bulan penjara.

Tak disangka, tangan terampilnya melukis tembok dapat membius sebagian mata para pengunjung yang akan melepas rindu bersama keluarga.

Dengan kuas dan air brush ia merubah tembok yang tadinya bercat polos, muncul lukisan dengan kualitas seni nan cantik. Mural kuda memesona itu dikerjakan selama 3 mingguan.

“Saya kerjakan semua ini masih 3 mingguan,” kata Edi Tato kepada wartabromo.com, Jumat (26/06/2020).

Pria kelahiran Sidoarjo itu mengerjakan project mural dibantu 2 teman sesama narapidana. Pastinya dengan tambahan tenaga, semakin memudahkannya melukis.

“Juga dibantu 2 teman saya,” terang Edi.

Untuk alat dan bahan-bahan melukis, seperti cat maupun air brush disediakan oleh pihak Lapas IIB Pasuruan. Merasa mendapat dukungan, Edi mengaku semakin bersemangat segera menuntaskannya. Setidaknya, hasrat melukis yang sempat terpendam, sudah dapat disalurkan.

Gatel rasane nek gak gambar. Wes biasa gambar trus meneng, bedo (Gatal rasanya kalau tidak menggambar. Sudah biasa menggambar kemudian diam, perasaannya beda),” ucap Edi Tato sambil tertawa.

Melukis tembok diakui sebatas hobi, karena Edi memiliki jiwa seni sejak berusia dini. Masa kecilnya banyak dihabiskan dengan mencorat-coret buku gambar, terus berkembang hingga dewasa mampu berbisnis di bidang jasa melukis bak truk.

“Sebelum masuk penjara, saya sebagai pelukis air brush bak truk,” ucapnya.

Di masa kejayaannya, dalam sehari Edi pernah mampu melukis 17 bak truk. Tentu saja, omset bisnis jasa yang digeluti terbilang tinggi, sampai puluhan juta rupiah dikantongi.

“Pesanan dari seluruh Indonesia,” ujar Edi tersenyum mengenang ikhtiar usaha mencukupi kebutuhan keluarganya.

Seperti diungkap sebelumnya, darah seninya melekat sejak kecil. Ternyata ia memang terlahir dari keluarga seniman. Selain itu, bila ditilik dari cerita sukses bisnisnya, karya seni Edi Tato tentunya sudah mendapatkan pengakuan.

Selain mural di tembok, Edi Tato juga bisa membuat lukisan di kanvas dengan menggunakan pensil. Tak jarang, teman sesama narapidana dibuatkan lukisan, selain permintaan untuk mengajari melukis.

“Banyak yang minta digambarkan, ada juga yang ingin belajar,” tutur Edi.

Pria beristri 4 dan 9 anak itu sebelumnya berada di Rutan Medaeng Sidoarjo. Di sana, ia sempat juga membuat lukisan memesona yang memanjakan mata.

“Sebelum di sini, saya di Rutan Medaeng. Ya sama, saya juga disuruh melukis sejumlah tembok,” ungkap Edi.

 

Kepala Lapas IIB Pasuruan Wahyu Indarto mengatakan, Edi Tato memang dikenal mempunyai kemampuan dalam melukis. Ia juga pernah memperlihatkan lukisan Edi kepada sejumlah kepala Lapas melalui pesan grup WhatsApp.

“Semua tertarik, bahkan ada yang meminta agar ia pindah tempat,” ucap wahyu sambil senyum.

Ide mempercantik lingkungan Lapas diungkapkan, agar pengunjung dari luar kota atau lainnya bisa lebih nyaman saat ingin bersua keluarga yang menjadi warga binaan Lapas.

“Ingin membuat sebagian pengunjung nyaman saat memasuki Lapas Pasuruan ini,” tutur Wahyu.

Saat ini Wahyu juga telah menyiapkan beberapa desain mural yang nantinya bisa dikerjakan oleh Edi. Bahkan, ia hendak memberikan tantangan kepada Edi Tato untuk membuat lukisan 3D di depan Lapas IIB Pasuruan.

Dengan banyak lukisan, selain mempercantik Lapas, disebutkan oleh Wahyu, setidaknya pengunjung semakin nyaman, semisal bisa berswafoto sambil menunggu antrean masuk ke dalam Lapas.
.
(ono)