Bencana di Kabupaten Pasuruan Meningkat, dari Banjir hingga Gempa

1626
LUMPUH TOTAL: Jalur Pantura Kraton, Pasuruan yang tergenang banjir hingga Selasa (14/05/2020) pagi. FOTO: BPBD.

Pasuruan (WartaBromo.com)- Intensitas bencana di Kabupaten Pasuruan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Merujuk pada data Pasuruan Dalam Angka: Penyediaan Data untuk Perencanaan Pembangunan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, bencana yang terjadi cukup beragam. Dari banjir, longsor, hingga gempa bumi.

BPS mejelaskan, bencana alam merupakan peristiwa/rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan/penghidupan masyarakat yang disebabkan faktor alam.

Sesuai dokumen tersebut, bencana banjir mendominasi rangkaian bencana yang pernah terjadi. Totalnya mencakup 240 desa pernah kebanjiran.

Data tersebut merupakan akumulasi dari rentetan banjir yang terjadi dalam kurun tiga kali tabulasi. Yakni, pada 2011 (82 desa), 2014 (71 desa) dan 2018 (87 desa).

Di antara ratusan desa yang pernah kebanjiran itu, desa di wilayah Kecamatan Kraton adalah yang paling banyak. Mencapai 13 desa pada 2011; 12 desa dan 20 desa pada 2020.

Bukan hanya banjir. Bencana longsor juga kian ‘rajin menyapa’ sebagian wilayah Kabupaten.

Sesuai dokumen yang sama, total 73 desa di Kabupaten Pasuruan pernah mengalami longsor selama tiga kurun periode. Yakni, 24 desa pada 2011; 22 desa pada 2014; dan 27 desa pada 2018.

Berbeda dengan banjir yang jamak terjadi di daerah bawah dan tengah, longsor banyak dijumpai di dataran tinggi. Seperti Tosari yang tercatat terjadi 8 kali pada 2011, 2014 dan 2018.

Lalu, Kecamatan Puspo 4 kali pada 2011; 3 kali pada 2014 dan 6 kali pada 2018. Serta Tutur dan Purwodadi yang masing-masing 7 kali kejadian longsor.

Yang mengejutkan adalah bencana gempa bumi. Berdasar data BPS, guncangan gempa sempat terjadi di Purwodadi. Yakni, pada 2018 dengan satu kali kejadian. (asd/ono)