Panen Rezeki dari Kelengkeng Kateki

5796
“Berawal dari coba-coba, keluarga Suwardi meraup keuntungan berlimpah. Gara-gara kelengkeng kateki, keluarga Suwardi banjir rezeki.”

Laporan: Maya Rahma

MEMASUKI Desa Jokarto, Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, hamparan lahan persawahan memanjakan mata. Ada satu lahan yang kemudian menarik perhatian. Ribuan pohon berjajar dengan buah-buah menggantung. Pohon ini berbuah kelengkeng. Sekilas, rasanya pohon tersebut sudah tak kuat menyangga banyaknya buah. Namun tak seperti perkiraan, pohon ini jelaslah masih kokoh.

Selidik punya selidik, lahan ini dimiliki oleh keluarga Suwardi. Pohon kelengkeng yang rimbun ini sangat memanjakan mata dan perut. Keluarga ini pun berkisah, bisa berhasil mengembangkan kelengkeng menggiurkan itu.

Suwardi mulanya bertanam apapun di kebunnya. Seperti buah jeruk dan beberapa buah lain. Namun saat itu, Ia merugi. Jeruk yang ditanam seringkali bermasalah. Suwardi yang doyan makan kelengkeng, akhirnya berinisiatif menanam buah berukuran bak kelereng ini.

Tak banyak yang ditanam, hanya untuk konsumsi sehari-hari. Persis seperti tetangga sekitar, yang menanam kelengkeng di halaman depan rumahnya.

Kemudian, Suwardi berkunjung ke Jawa Tengah. Kesukaannya pada kelengkeng, membuat pria ini bertemu dengan salah satu petani kelengkeng. Perbincangan ringan membawa Suwardi akhirnya membeli bibit kelengkeng Kateki. Bibit ini lah yang kemudian ditanam di sejumput kebunnya.

“Belajar nanam kelengkeng kateki ini. Dibantu anak dan menantu. Anak saya rajin nonton YouTube juga supaya jadi ini pohonnya sambil lihat video. Bagaimana perawatannya,” katanya.

Siapa sangka, perjuangan panjang ini akhirnya berbuah hasil. Kelengkeng kateki milik Suwardi berbuah manis dengan daging tebal. Ia kemudian menanam bibit kateki ini di kebun seluas 7 hektare.

“Saat ini pohonnya berjumlah 1.300-an di lahan 7 hektare,” kata Dicky Andreano (27), menantu sekaligus pengelola kebun kelengkeng kateki.

Selama perawatan kelengkeng, Dicky mengaku tak banyak hambatan berarti. Dulu, hama yang menganggu sebatas kelelawar. Namun sudah bisa diatasi dengan atap jaring-jaring yang dibuatnya.

“Paling hanya tikus sih biasanya. Tapi bisa diatasi. Kendalanya di air, kita selama ini pakai sumur dan pompa. Nah, itu membutuhkan air yang banyak dan waktu yang banyak, juga cost yang terlalu tinggi,” lanjutnya.

Sementara itu untuk hasil dari kelengkeng kateki ini, Dicky mengaku masih belum bisa sampai berton-ton tiap tahun. Sebab kelengkeng kateki harus punya pasar dulu baru bisa dijual, supaya tidak murah busuk. Namun, Ia bisa mengolah masa panen.

“Kita bisa pakai perangsang atau booster, jadi kita bisa atur panennya. Misalnya 100 pohon nanti mau dipanen 2 bulan atau 1 bulan, itu bisa kita atur,” kata Dicky.

Sejauh ini, Dicky mengaku tak kesulitan untuk memasarkan kelengkeng kateki tersebut. Ada saja permintaan baik dari pasar untuk market offline, maupun online. Sejauh ini pun pemasaran masih di sebatas Kabupaten Lumajang. Ia juga membuka sistem reseller untuk yang mau menjual lagi.

“Alhamdulillah saat ini responnya banyak banget. Kita sampai kewalahan memenuhi permintaan pasar,” tambahnya.

Dicky berharap, kelengkeng kateki ini bisa mencukupi pasar dan menang dari kelengkeng impor. Sebab, secara kualitas, kelengkeng ini tak kalah unggul. Ukuran buah lebih besar dari kelengkeng pada umumnya, dagingnya juga tebal dengan biji kecil. Selain itu, rasanya juga manis.

“Kami berharap semoga kelengkeng lokal bisa menang di negara sendiri. Bahkan bisa diekspor ke depannya,” tutup Dicky. (*)