Ritual Mendak Tirta di Pertapaan Patih Gajah Mada

6709

Lumbang (wartabromo.com) – Jelang Yadnya Kasada, warga Suku Tengger Bromo mengambil air suci (mendak tirta). Untuk warga di Kabupaten Probolinggo, prosesi itu digelar di air terjun Madakaripura, pertapaan Patih Gajah Mada.

Dengan berjalan kaki, sejumlah tokoh agama dan masyarakat Suku Tengger menuju air terjun yang berjarak lebih dari 2 kilometer dari tempat parkir wisata di Desa Negoro Rejo, Kecamatan Lumbang. Di tengah pandemi Covid-19, prosesi ini sengaja tidak dilakukan dengan banyak orang. Mengikuti aturan protokol kesehatan Covid-19.

“Ini adalah salah satu tahapan dalam ritual Yadnya Kasada. Mendak Tirta atau mengambil air suci merupakan rangkaian yang tak terpisahkan. Ada empat mata air yang digunakan sebagai lokasi mendak tirta,” ujar Bambang Suprapto, tokoh agama masyarakat Suku Tengger.

Selain air terjun Madakaripura, tiga sumber air suci lainnya adalah sumber mata air Watu Klosot di Senduro, Lumajang. Kemudian sumber mata air Widodaren, kawasan Bromo Pasuruan, dan Rondo Kuning, Ranupane, Lumajang. Pelaksanaan mendak tirta dilakukan secara serentak pada Jumat, 3 Juli 2020.

Pengambilan sumber mata air dilakukan oleh dukun pandita disertai dengan pembacaan mantera. Tidak semua warga Suku Tengger dapat mengikuti ritual ini. Air suci tersebut, lantas dibawa ke Pura Luhur Poten di kaki Gunung Bromo. Sebagai kelengkapan untuk menggelar upacara Yadnya Kasada.

Air terjun Madakaripura dipilih karena diyakini sebagai air suci nan keramat. Dahulu kala, tempat itu menjadi pertapaan Gajah Mada, Patih Kerajaan Majapahit. Konon sebelum mengucapkan Sumpah Palapa, Gajah Mada bertapa di air terjun tersebut.

“Gajah Mada merupakan leluhur Suku Tengger. Di tempat keramat ini, beliau melakukan tapa brata sebelum mengucapkan amukti sumpah palapa. Dimana setelah itu, beliau mempersatukan nusantara,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo itu.

Perayaan Yadya Kasada akan dilaksanakan pada Senin-Selasa, 6-7 Juli 2020 di Pura Luhur Poten Bromo. Dilanjutkan dengan ritual larung sesaji hasil pertanian di kawah Gunung Bromo. Pada ritual tahun ini, akan ada pengangkatan dukun pandita baru. (saw/saw)