Farmasi Dominasi Investasi Asing di Kabupaten Pasuruan

850
Kawasan industri PIER.

 

Pasuruan (WartaBromo.com) – Pandemi Covid-19 membuat dunia investasi di Kabupaten Pasuruan ikut lesu. Hingga tengah tahun berjalan, angka belum sesuai ekspektasi.

Berdasar data WartaBromo.com, hingga Jumat (3/07/2020) lalu, nilai investasi untuk kategori Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp 2, 08 triliun.

Dengan kata lain, pada semester pertama tahun ini, capaian investasi PMDN belum mampu melewati capain investasi untuk periode yang sama tahun lalu.

Sebagai catatan, pada periode sebelumnya (2019) investasi dalam negeri Kabupaten Pasuruan mencapai Rp 7, 9 triliun. Meski begitu, kontribusi PMDN lebih lebih tinggi ketimbang PMA (modal asing).

Kepala Dinas Pelayanan Perizinan Terpadu (DP2T) Edy Suprianto mengatakan, situasi global yang tak menentus imbas pandemi Covid-19 diduga menjadi penyebabnya.

“Kan situasi global belum menentu. Jadi, investor-investor juga sebagaian memilih untuk menahan rencana investasinya,” kata Edy, kepada WartaBromo.com.

Dijelaskan Edy, industri kertas dan percetakan, serta makanan dan minuman (mamin) merupakan sektor yang paling mendominasi investasi pada semester pertama tahun ini.

Kedua sektor tersebut memberi kontribusi sebesar Rp 654 3 miliar. Rinciannya, sektor kertas dan percetakan sebesar Rp 450 miliar. Dan, mamin sebesar Rp 204, 3 miliar.

Bagaimana dengan Penanamam Modal Asing (PMA). Hingga semester pertama ini, PMA masuk tercatat sebesar 51, 1 juta dolar AS. Angka tersebut berasal dari 198 kegiatan proyek.

Capaian tersebut lebih kecil dibanding periode yang sama tahun lalu. “Tahun lalu kita tembus sampai 128, 5 juta dolar AS” ujar Edy.

Hanya, berbeda dengan PMDN yang didominasi kertas dan mamin, investasi oleh asing lebih banyak di sektor obat dan farmasi. Mencapai 29, 9 juta dolar AS.

Grafik investasi di Kabupaten Pasuruan sendiri bisa dibilang cukup dinamis. Misalnya, pada 2016, investasi PMDN mencapai Rp 2, 2 trilun; 2017 sebesar Rp 13, 5 triliun, serta Rp 3 dan Rp 7, 9 triliun pada 2018 dan 2019.

Begitu juga untuk kategori PMA. Dimana, pada 2016 tercatat sebesar 393 juta USD, lalu turun menjadi 285,7 juta USD di 2017; dan kembali turun pada 2018 dan 2019. Masing-masing sebesar 147 juta USD dan 128 juta USD. (tof/asd)