Melihat Kesibukan Petani Jeruk Keprok di Ngembal

2264

Pasuruan (WartaBromo.com) – Petani jeruk keprok Desa Ngembal, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan panen raya. Buah dengan rasa segar dan manis tersebut, sepertinya laris di pasaran.

Supardi, salah satu petani jeruk mengaku tak lagi kerepotan mencari pembeli buah jeruk. Pembeli datang langsung ke untuk mengambil buah dengan kandungan vitamin C itu.

“Alhamdulillah, banyak orang yang langsung datang ke kebun saya untuk memetik jeruk sendiri. Tapi ya harus ditemani, karena metiknya harus benar. Tidak boleh diputar tapi digunting,” ungkapnya,
pertengahan pekan kemarin.

Harga untuk mereka yang ingin kulakan dipatok Rp6 ribu per kilogram. Sedangkan harga untuk pengecer, Supardi dan petani lainnya mematok Rp7 ribu per kilogramnya.

Kebetulan, para pelanggan mereka di antaranya penjual buah pasar tradisional/modern di Malang, Surabaya, bahkan Probolinggo.

“Jeruk di sini biasanya yang ngambil dari pasar-pasar di wilayah Malang. Surabaya masih belum,” ujar petani jeruk yang punya lahan 1/2 hektare itu.

Supardi menjelaskan, ada beberapa kelompok petani jeruk di Desa Ngembal. Masing-masing kelompok beranggotakan 15 sampai 50 petani. Varietas jeruk andalan adalah Batu 55 atau di pasaran disebut jeruk keprok punten.

“Pohon jeruk itu masa produktifnya 25 tahun. Kalau pohon jeruk yang umurnya 2 sampai 4 tahun seperti ini, kalau panen per pohon mencapai 15-20 kilogram. Kalau setelah itu ya bisa lebih, buahnya juga lebih besar ukurannya,” terang Supardi.

Sementara itu, musim panen jeruk keprok ini dimanfaatkan oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pasuruan, Lulis Irsyad Yusuf untuk mempromosikan salah satu andalan buah yang baru di Kabupaten Pasuruan.

Menurutnya, jeruk adalah salah satu buah favorit di tengah pandemi Covid-19. Vitamin yang ada dalam buah berwarna hijau dan kuning ini dinilai berkhasiat, menjaga imun (daya tahan) tubuh.

“Jeruk adalah buah yang sangat dibutuhkan untuk menjaga daya tahan tubuh tetap terjaga. Kandungan vitamin C nya sangat tinggi, sehingga terbukti sangat baik untuk menjaga tubuh agar tetap fit,” ungkapnya.

Lulis mengatakan jika pontensi jeruk di Desa Ngembal sudah ada di Tahun 1980 sampai 1990-an. Hanya saja, pada tahun 1992 tanaman jeruk di desa tersebut rusak diserang hama. Kemudian sekitar Tahun 2000, geliat pertanian jeruk kembali bangkit dan menjadi potensi penambah sentra penghasil buah di Kabupaten Pasuruan.

“Ternyata jeruk hasil petani di sini sudah menembus pasar supermarket. Ini harus kita optimalkan dengan dibantu balai penelitian jeruk dan buah subtropika untuk pemeliharaan dan kelanjutan di Kabupaten Pasuruan,” kata Lulis.

Di sisi lain, Kepala Loka Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika Kementrian Pertanian RI, Harwanto menegaskan, Kabupaten Pasuruan memiliki wilayah ideal untuk pengembangan kawasan jeruk maupun buah sub tropika. Salah satunya Kecamatan Tutur yang cocok dijadikan lokasi penanaman buah jeruk dan apel.

“Jeruk sangat cocok di daerah Tutur ini. Hasilnya sudah bagus, meski terus harus dikembangkan karena buahnya bisa sangat besar,” ucapnya. (mil/ono)