“Terusir” dari Tanah Sendiri, Sewindu Menjadi Pengungsi

1139
INGIN PULANG: Salah seorang pengikut Syiah di lokasi pengungsian Rusunawa Puspa Agro, Sidoarjo. Foto: Asad Asnawi.

Sikap intoleransi memaksa para pengikut Syiah ini terusir dari tanah sendiri. Hingga kini, tercatat sudah delapan tahun mereka hidup di pengungsian tanpa tahu kapan akan kembali.

Oleh: Asad Asnawi

WAKTU berjalan begitu cepat. Tak terasa, terhitung hampir sewindu (delapan tahun) para pengikut faham Syiah ini menyandang status sebagai pengungsi. Kerusuhan yang pecah pada Desember 2012 silam membuat mereka terusir dari kampung halamannya di Sampang, Madura.

Menjelang akhir Maret lalu, WartaBromo.com berkesempatan menyambangi mereka di lokasi pengungsian di Komplek Rumah Susun Provinsi Jawa Timur “Puspa Agro” di Kelurahan Jemundo, Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo.

Saat didatangi, rusun berlantai lima dengan warna biru mendominasi itu terlihat lengang. Merebaknya ancaman Covid-19 serta cuaca yang cukup terik membuat orang-orang memilih berdiam diri di dalam kamar. Hanya ada beberapa bocah yang tengah asyik bermain sepeda angin di halaman komplek.

“Sepi Mas. Orang-orang banyak di kamar,” kata Nur Kholis, salah satu penghuni yang merupakan pengungsi asal Sampang itu saat ditemui di lokasi. Sebuah amben (tempat duduk dari bambu) di tempat parkir, menjadi tempat kami mengobrol banyak hal.

Saat memasuki rusun, usia Kholis baru 21 tahun. Karena status sebagai pengungsi itu pula ia yang waktu itu baru tamat sekolah SMA tidak bisa langsung melanjutkan ke bangku kuliah. “Baru 2015 saya bisa kuliah, lulus tahun kemarin,” jelas sarjana hukum Universiyas 17 Agustus (Untag) Surabaya ini.

Kholis memang masih beruntung masih bisa melanjutkan kuliah dibanding anak-anak pengungsi yang lain. Keluarganya yang pengikut Sunni masih kerap mengiriminya uang dari hasil mengolah lahan pertanian. “Kan orang tua saya tidak ikut mengungsi,” terang bapak satu anak ini.

Menjadi pengungsi tak pernah terlintas dalam benak lelali 29 tahun itu. Apalagi status itu telah memisahkan dirinya dengan orang tuanya di Sampang. “Ayah saya penganut Sunni. Ibu saya Syiah,” ujar Kholis.

Kendati beda faham, di keluarganya tak pernah jadi masalah. Karena itu pula, saat dirinya memutuskan ikut ke pengungsian pasca kerusuhan itu terjadi, mereka tak mempersoalkan. Malah, sesekali mereka menyambangi ke komplek rusun.

Meski begitu, pengungsi tetaplah pengungsi. Dalam dirinya, ia tetap warga Sampang. Bahkan, identitas kependudukan yang dimilikinya saat ini pun, masih tercatat sebagai warga Sampang. “Tapi hanya di identitas. Untuk kembali pulang, kami tidak bisa,” ujarnya. Sebuah amben yang terbuat dari bambu menjadi tempat kami mengobrol.

MENANTI NASIB: Para penganut Syiah yang sudah delapan tahun menghuni blok pengungsian Rusunawa Puspa Agro.

Kholis bukanlah satu-satunya penganut Syiah asal Sampang yang harus tinggal di tempat pengungsian itu. Total ada 350 an jiwa yang selama delapan tahun belakangan ini menghuni Rusun Puspa Agro di Jemundo, Sidoarjo.

Jauh sebelum menghuni blok yang bersebelahan dengan rusun para imigran, ratusan kaum minoritas ini dikumpulkan di Gelanggang Olahraga (GOR) Sampang, sesaat setelah kerusuhan pecah pada Agustus 2012 silam. Delapan bulan mereka tinggal disana.

Seperti diketahui, kerusuhan berbasis SARA (Suku, Ras, Agama) pecah di Kabupaten Sampang, Madura, Agustus 2012 silam. Saat itu, massa menyerang dan membakar para pengikut Syiah yang terkonsentrasi Dusun Nangkernang, Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura.

Selain menewaskan satu orang, puluhan rumah turut dibakar massa. Oleh otoritas setempat, ratusan penganut Syiah itu kemudian dievakuasi ke GOR milik Pemkab Sampang. “Setelah delapan bulan disana (GOR) kami kemudian dibawa kesini. Kalau dihitung, ini tahun ke delapan kami mengungsi. Dan kami tak tahu kapan bisa pulang,” ujar Kholis.

Kembali pulang memang menjadi harapan para pengungsi Syiah ini. Meski sudah delapan tahun di pengungsian, hal itu tidak serta merta membuat keinginan untuk pulang mati. Sebaliknya, mimpi itu terus terpelihara sampai kini.

Keinginan untuk mewujudkan hidup penuh kedamaian di tengah perbedaan keyakinan menjadi alasan utamanya mereka untuk kembali ke rumah. “Dengan kami tidak pulang, itu berarti kami membiarkan sikap intoleransi itu. Padahal, apapun bentuknya, intoleransi tidak boleh mendapat ruang,” jelas Ustad Iklil Al Milal, salah satu tokoh komunitas ini.