Kisah Perempuan Mantan Pegawai Bank, Banting Setir Jadi Petani Hidroponik

17036
“Perempuan 2 anak ini memilih meninggalkan karirnya di kantor ber-AC dengan upah terjamin, untuk jadi petani hidroponik.”

Laporan: Maya Rahma, Fs. Fahmi

PEKERJAAN dengan upah terjamin, tak menjadikan seseorang untuk tetap bertahan. Salah satunya seperti pada Dyah Ayu Kurniasari, mantan pegawai bank yang memilih banting setir jadi petani hidroponik.

Sebagai Customer Service sebuah bank, Dyah sedianya tak kesulitan pendapatan. Nominal rupiah yang diterima tentunya lumayan, dengan jenjang karir yang bila ditekuni, sebenarnya cukup jelas terjamin.

“Saya bekerja jadi petani hidroponik, yang sebelumnya merupakan hobi saya,” jelas Dyah, menegaskan pilihan profesinya.

Dyah mengaku melepas pekerjaan yang sudah bertahun dijalani, untuk fokus merawat kedua anaknya. Dasar itu yang kemudian menguatkannya memilih menjadi petani hidroponik. Yups, supaya bisa lebih dekat dengan anak sekaligus tidak kehilangan pundi-pundi penghasilan.

“Awalnya sedikit kesulitan. Sulitnya di pemasaran, juga bahan baku seperti media tanam, bibit unggul, sulit untuk didapatkan di Lumajang,” katanya.

Meski mengaku sempat mengalami kesulitan, akhirnya Dyah menemukan solusi. Ia menjalin kemitraan dengan salah satu komunitas hidroponik di Jember. Dari situlah, impian Dyah tercapai.

Ibu dua anak ini dibantu komunitasnya membuat green house untuk hidroponik. Tak harus pindah ke desa, green house milik Dyah ini terletak di tengah kota Lumajang. Tepatnya di Jalan Veteran, Kecamatan Sukodono.

“Dibantu pemasaran dan juga membantu menyediakan media tanam, pupuk dan bibit yang bagus,” lanjut pemilik Omah Lele Ijo ini.

Usaha yang dibangun Dyah selama 3 tahun terakhir membuahkan hasil. Ia memiliki green house seluas 8 x 12 meter dengan 1.810 lubang tanam.

Saat ini Ia fokus menanam berbagai jenis selada. Seperti selada keriting, selada bejo seed, hingga selada romaine. Berbagai jenis selada ini dipasarkan di sekitaran Lumajang. Meski terkadang Dyah mengaku kewalahan karena permintaan semakin banyak, sementara stok sayur hidroponik-nya belum mencukupi.

“Alhamdulillah. Omzetnya sebulan mencapai Rp3 juta,” lanjutnya.

Selain merawat sayur hidroponik, Dyah juga beternak lele dan gurame. Sayuran hidroponik ini ada di bagian atas kolam lele dan gurame yang sebelumnya memang sudah dirawat terlebih dahulu.

Perempuan berhijab ini mengaku tak menyesal menjadi petani. Sebab, Ia sangat menikmati profesinya saat ini. Bahkan, anak-anaknya pun mulai berkenalan dengan dunia hidroponik dan ikut tertarik.

“Menjadi petani itu menyenangkan. Tak perlu berkotor-kotoran, mencangkul, dan lain-lain, kalau jadi petani hidroponik. Sangat menyenangkan,” tutup Dyah dengan sumringah. (*)