Adaptasi Kebiasaan Baru, 4 Pesantren Jadi Percontohan Ponpes Tangguh

3126

Kraksaan (wartabromo.com) – Penguatan adaptasi kebiasaan baru terus digaungkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo. Termasuk di lingkungan pondok pesantren. Pemkab Probolinggo pun menunjuk 4 pesantren sebagai pilot project Ponpes Tangguh Covid-19.

Keempat Ponpes itu adalah Ponpes Nurul Jadid Tanjung Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton; Ponpes Zainul Hasan Genggong, Desa Karangbong, Kecamatan Pajarakan; Ponpes Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani dan Ponpes Hati Toroyan, Desa Rangkang, Kecamatan Kraksaan. Pencanganan dan lenguatan Adaptasi Kebiasaan Baru di lingkungan Ponpes Tangguh Covid-19, dilaksanakan di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati Probolinggo pada Selasa, 14 Juli 2020.

“Pondok Pesantren Tangguh Covid-19 merupakan wujud Ikhtiar bersama, guna mewujudkan masyarakat Kabupaten Probolinggo yang tangguh dalam menghadapi pandemi virus corona. Dalam hal ini termasuk para santri dan seluruh pengurus pada lingkungan pondok pesantren,” Bupati Probolinggo, Hj Puput Tantriana Sari, SE.

“Menurut pengamatan kami, keempat pondok pesantren ini yang disiplin dalam penerapan SOP. Bahkan perencanaan dan regulasi kepulangan santri ke pesantren, juga telah benar-benar dipikirkan secara matang sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah,” lanjutnya.

Ia berharap, empat Ponpes itu menjadi contoh dan inspirasi bagi pesantren yang lain, dalam mewujudkan pesantren yang tangguh. Agar santri di dalam pondok pesantren aman dan steril dari resiko penularan virus corona. Salah satunya dengan membatasi akses keluar masuk wali santri,  pedagang, maupun para petugas. Kedua adalah menerapkan fungsi karantina bagi yang sedang sakit.

“Terimakasih kepada jajaran Ponpes yang juga terus berikhtiar dan selalu mendoakan Kabupaten Probolinggo, agar dimudahkan oleh Allah dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini. Bersama segala upaya dan doa, kita bersama semoga Allah segera mencabut pandemi Covid-19 ini, khususnya di Indonesia,” tandasnya.

Direktur Pendidikan Pondok HATI, Dr. Fathurrozi, M.Fil, menyebut di pondok itu ada 220 santri. Semuanya laki-laki yang menempuh pendidikan di SMP dan SMA HATI Bilingual Boarding School. Para santri ini, kembali ke pondok secara bertahap yang dimulai oleh siswa kelas kelas 12 dan 11. Kemudian kelas 9 dan 10, disusul kelas 7 dan 8. Masing-masing gelombang itu, berjarak 2 minggu.

Saat kembali, mereka menjalani protokol kesehatan secara ketat sejak masuk di pintu gerbang. Selain pengukuran suhu, santri juga menjalani rapid tes. Dalam pelaksanaannya, ada 2 santri yang reaktif. Karenanya mereka menjalani tes swab, hasilnya negatif.

“Orang tua atau wali yang mengantar memang tidak boleh masuk ke dalam pondok pesantren. Jadi cukup di pintu gerbang. Ini semata-mata untuk memastikan bahwa Pondok Pesantren HATI merupakan pondok pesantren yang steril dari virus Corona,” tutur Fathurrozi.

Upaya lainnya adalah pengaturan kamar, jika sebelumnya 1 kamar diisi 4 anak maka kini hanya diisi 2 anak. Santri juga dilarang saling pinjam barang, semisal pensil, sarung dan lainnya. Mereka juga diharuskan cuci tangan setiap mau dan selesai beraktivitas.

“Dalam setiap kegiatan belajar semuanya sudah diatur sedemikian rupa, agar physical distancing dan jaga jarak aman tetap dilaksanakan. Tidak ada kontak fisik, bahkan dengan para ustadz. Budaya salaman sudah nggak ada, taqdimul ustadz didefinisikan dengan cukup menunduk,” kata pria yang juga Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Probolinggo itu.

Untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau imun, Pondok Pesantren HATI memberikan asupan gizi kepada santri secara rutin. Baik dalam pemilihan bahan makanan, maupun suplemen vitamin. Juga ada giat olah raga yang rutin dilaksanakan. (saw/**)